JADILAH SANG PENDIDIK

Selasa, 29 Maret 2011


Pendidik atau guru adalah orang tua kedua bagi anak didiknya. Mau tidak mau para pendidik juga berperan besar mewarnai seorang anak. Anak laksana kertas putih yang secara fithroh bersih, suci dan orang tua serta gurulah yang berperan besar untuk mewarnai anak menjadi merah, hijau, kuning, atau perpaduan warna lainnya. Hal tersebut membuat pendidik memiliki tugas dan tanggung jawab yang besar, yang tidak dapat diremehkan dan dipandang sebelah mata. Bagi pendidik yang ikhlas dan menjadikan tugas tersebut sebagai ladang amal maka pahala dari Allah telah menanti. Akan tetapi akankah seorang pendidik akan selalu mulus dan tanpa rintangan dalam melaksanakan tugasnya tersebut??? Tentu jawabnya tidak.

Lika-liku sebagai pendidik harus dilalui, karena pendidik tidak hanya menghadapi satu orang saja, namun bisa puluhan orang. Tidak hanya anak didik saja yang harus pendidik hadapi, begitu juga orang tua anak didik. Tidak mudah tentunya. Namun mengingat agung perannya seorang pendidik, dapat menjadikan pemicu semangat untuk tidak gentar menghadapi masalah-masalah yang dihadapi dengan anak didik. Setiap pendidik akan dicoba dengan masalah masing-masing, dan hal tersebut dapat mendewasakan sang pendidik dari waktu ke waktu. Hingga suatu saat ia mampu berdiri setegar karang, yang mampu menghadapi benturan ombak yang kian membesar. Senyum, tangis, guratan kesedihan maupun kekhawatiran menjadi bumbu bagi pendidik. Senyum dan tawa mengiringi langkah keberhasilan anak didik. Guratan kesedihan maupun kekhawatiran tersimpan hingga terkadang teruraikan air mata bila melihat kemunduran atau bahkan kemerosotan ynag dihadapi anak didik baik dari segi akademik maupun akhlak. Harus bagaimana lagi agar dapat menjadi guru yang pengertian terhadap anak-didik. Harus melakukan apa lagi agar anak didik dapat menjadi lebih baik. Satu masalah terurai dan selesai muncullah masalah yang baru yang harus dihadapi lagi. Seakan-akan masalah tak ada henti-hentinya dari hari ke hari.


Wahai para pendidik bersabarlah, hingga waktu dimana kau menuai pahala akan tiba!
Penulis ini juga belum menjadi pendidik yang baik namun baru berusaha menjadi pendidik yang baik bagi anak didiknya. Tentunya banyak belajar baik dari teori maupun pengalaman bagaimana cara mendidik yang benar dan efektif.Untuk itu salah satu cara adalah pendidik harus cerdik mengetahui hal-hal yang penting dalam mendidik. Hal-hal yang penting tersebut antara lain :


Ikhlas
Pendidik harus memiliki niat yang ikhlas dalam mendidik anak-anak didiknya. Hal tersebut agar membedakan antara niat kebiasaan dan niat ibadah. Jadi tatkala pendidik meniatkan mendidik untuk mencari pahala di sisi Allah, maka akan berbeda jika pendidik tanpa ada niat dihati, pergi pagi pulang siang ke sekolah dan hanya menjadikan hal tersebut sebagai rutinitas belaka. Dan niat tersebut harus ikhlas, karena niat yang ikhlas adalah bagian terpenting agar tidak menjadi amalan yang kosong. Sebagaimana Imam Nawawi rahimahullah menempatkan niat di hadist pertama dalam kitab Hadist Arba’in, yang isinya adalah:

Dari Amirul Mukminin, Abu Hafsh ‘Umar bin Al Khaththab radhiyallohu’anhu, dia berkata, “Aku telah mendengar Rasulullah bersabda, ‘Sesungguhnya setiap perbuatan itu tergantung niatnya. Dan sesungguhnya setiap orang (akan dibalas) berdasarkan apa yang dia niatkan. Barangsiapa yang hijarhnya karena (Ingin mendapat keridhaan) Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada (keridhaan) Allah dan Rasul-Nya. Dan siapa yang hijarhnya karena dunia yang dikehendakinya atau kerana wanita yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya (akan bernilai sebagaimana) yang dia niatkan.” (HR. Bukhari)

Jauhkan sifat riya‘ dari diri Sang Pendidik. Rasa ingin dipuji karena ketinggian ilmu, rasa ingin di sanjung dengan keahlian yang dimiliki. Wahai para pendidik, ingatlah bahwa kau dapat mengajarkan ilmu yang sekarang kau ajarkan karena menang selangkah. Dalam artian kau lebih dahulu menimba ilmu yang kau berikan sebelum anak didikmu. Mungkin jika kau duduk bersama bersanding dengan anak didikmu, belum tentu kau lebih faham dari mereka. Terbukti banyak sekali anak didik yang ilmunya melebihi ilmu sang guru. Dan juga ingatlah ilmu tersebut berasal dari Allah. Allah yang memahamkan kepadamu.


Ilmu yang kau dapatkan jangan sekedar kau gadaikan demi sesuap nasi
Kau menjadi angkuh dan menilai ketinggian ilmumu dengan rupiah. Waliyyadzubillah. Ingatlah bahwa rizqi adalah dari Allah. Kau dapat pendidikan yang tinggi itu juga rizqi-Nya, kau dapat kecerdasan juga karena rizqi-Nya. Kau faham akan ilmu yang kau pelajari juga karena rizqi-Nya. Dan kau mendapat kesempatan menularkan ilmu kepada yang lain juga tak lepas dari Rizqi-Nya. Ikhlas, ikhlas, dan ikhlas. Kata yang sangat mudah terucap namun sulit dalam mempraktekkannya. Ikhlas dalam melaksanakan tugas-tugasnya. Cek, cek dan cek lagi hati agar tak lepas dari keikhlasan. Bagaimanapun inilah ladang amal yang besar yang tidak boleh disia-siakan. Maka berjuanglah!!!


Keteladanan
Pendidik tidak hanya mengajar namun juga mendidik. Jika mengajar, setelah bahan ajar disampaikan, sudah lepaslah tanggung jawab, namun jika mendidik adalah lebih menuju ke arah memberikan pemahaman baik segi akademik maupun segi mental anak didiknya. Pendidik akan lebih dihargai dan lebih didengar tatkala ia tidak asal bunyi saja alias asal berbicara (menasehati dan menasehati) namun lebih ke suri teladan. Melihat dengan contoh lebih mudah dipahami oleh anak daripada sekedar mendengar, karena perilaku merupakan cermin berfikirnya. Sebagai contoh yang mudah, tatkala ada kerja bakti kelas, pendidik hanya menyuruh ini itu, sedangkan ia santai melenggang pergi atau hanya mondar-mandir saja, maka akan terjadi protes pada diri anak didik, Karena perintah tersebut tak terwujud dalam tindakan. Mungkin benar bahwa sebagai pendidik adalah yang mengarahkan namun alangkah lebih bagus lagi selagi mengarahkan pendidik juga memberikan contoh. Hal tersebut sepele namun akan benar-benar membekas. Siapa tahu tatkala anak didik menjadi pendidik, ia akan cenderung bersikap sebagaimana pendidik ajarkan dahulu yaitu menjadi jiwa penyuruh tanpa mau meneladani. Bila seorang pendidik benar dalam perkataannya dan dibuktikan dalam perbuatannya anak akan tumbuh dengan semua prinsip-prinsip pendidikan yang tertancap dalam pikirannya.

Allah juga telah memperingatkan bagi pendidik yang berbuat berlainan dengan ucapannya, Allah berfirman,
“Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat? Amat besar kebencian disisi Allah bahwa kamu mengatakan apa saja yang tidak kamu perbuat.” (QS. Ash-Shaf: 2-3)


Disiplin
Menegakkan kedisiplinan berbeda dengan pengekangan. Memang sedikit agak sukar dibedakan, karena begitu banyak aturan yang harus ditegakkan saat menerapkan kedisiplinan. Akan tetapi jika diamati lebi cermat terdapat perbedaan mencolok diantara keduanya, Pengekangan akan sangat merugikan anak didiknya yang akan dirasakan sekarang maupun dilain waktu, namun disiplin akan menimbulkan pengekangan anak didik di awal saja, disaat mereka baru beradaptasi dengan bentuk kedisiplinan tersebut, jika sudah berulang kali melaksanakannya dan biasa maka mereka akan merasakan betapa bermanfaat disiplin tersebut bagi dirinya. Hal yang kecil yang dapat dilakukan, misalnya disiplin masuk kelas, disiplin terhadap peraturan yang ada di kelas atau sekolah.
Islampun telah mengajarkan kedisiplinan yaitu tercermin dalam shalat wajib tepat waktu, tidak boleh mengulur-ulur hingga akhir waktu bahkan keluar dari waktu yang telah ditentukan. Juga disunnahkan untuk mengucapkan salam jika bertemu saudara muslim yang lain, dan wajib untuk menjawabnya.


Amanah Ilmiah
Hal tersebut yang sering sekali terlupa oleh sang pendidik, yaitu amanah ilmiah. Amanah Ilmiah tersebut harus dijalankan disaat memberikan pelajaran, sehingga pelajaran yang dibawakan bukan sekedar asal bunyi belaka. Kadang ada pendidik yang kurang menjalankan amanah ilmiah ini, dengan sekedar mengabarkan tanpa memberikan rujukan-rujukan yang terpercaya, atau bahkan pelajaran hanya diisi dengan cerita pengalaman yang mungkin tidak ada hubungannya dengan pelajaran sama sekali.


Dapat mengkondisikan kelas
Terkadang tidak semua pendidik mampu mengkondisikan kelas, tidak mampu dalam mengendalikan anak didik, akhirnya target pelajaran tak terkejar, kelas dalam suasana gaduh dan anak didik bersikap semaunya. Tidak dapat dibiarkan, untuk situasi semacam ini pendidik harus pandai memutar otak agar dapat mengendalikan kelas tanpa harus beradu mulut dengan anak didiknya. Memang sulit apalagi jika dalam satu kelas terdiri dari 20 anak lebih, yang masing-masing dari mereka memiliki pemikiran sendiri. Jangan menyerah insyaallaah akan selalu ada jalan bagi pendidik yang sabar dan berpikiran jernih.


Bertindaklah bak seorang pendidik sedang bermain layang-layang
Ibarat ini memiliki arti bahwa pendidik harus mampu menempatkan diri sebagai pemain layang-layang, dan layang-layang tersebut sebagai anak didik. Pendidik harus dapat menarik-ulur layang-layang tersebut, menarik layang-layang dengan artian tatkala anak didik mulai melanggar peraturan atau anak didik mulai tidak mengindahkan nasehat pendidik maka pendidik bisa bersikap tegas namun bukan mendzalimi. Dan mengulur layang-layang artinya tatkala anak didik mulai disiplin, taat kepada aturan yang ada dan bersemangat untuk menuntut ilmu, pendidik dapat memberikan kelemahlembutan namun bukan lemah. Kelemahlembutan misalnya dengan memberi mereka hadiah berupa pujian atau mengadakan kejutan kecil untuk mereka, seperti memberi hadiah buku dsb. Karena Allah pun menyuruh pendidik agar berlemah lembut, dari Jarir bin Abdullah radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,

“Barangsiapa yang tidak diberi sifat kelembutan maka ia tidak memiliki kebaikan sama sekali.” (HR. Muslim 2592)


Jauhilah Mengeluh dan Putus asa
Ingatlah selalu, pahala yang akan diraih. Mengeluh akan membuka pintu setan sehingga pendidik, menyerah sedangkan berputus asa akan dapat memutuskan ladang amalan yang seharusnya pendidik dapatkan. Semangat harus selalu dipupuk tatkala mulai timbul kejenuhan, keruwetan dalam menghadapi lika-liku dalam mendidik.


Dan yang terpenting adalah DOA
Serahkan semua permasalahan kepada Allah, dan Allah lah tempat mengadu. Bisa jadi anak yang semula buruk akan berubah menjadi baik dengan izin Allah karena wasilah dari doa yang pendidik panjatkan. Allah Subhanahu wa Ta’alla berfirman,
” Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang mendoa apabila ia berdoa kepadaKu.” (QS. Al-Baqarah : 186)
Bagaimanapun hati manusia ada di antara jari-jari Allah. Sebagaimana hati anak-anak pula yang berada diantara jari-jari Allah, hanya Dia yang dapat membolak-balikkan hati hamba-Nya. Adukan semua kepada-Nya, dan memohonlah agar mendapatkan kemudahan.
“Ya Allah, lapangkanlah dadaku, mudahkanlah urusanku dan lunakkanlah lidahku agar manusia dapat memahami perkataanku.” (QS. Thaahaa: 25-28)

Bersyukurlah karena dalam garis hidup ini ada waktu untuk memberikan ilmu walau sedikit kepada orang lain. Mungkin itulah salah satu cara agar dapat bermanfaat bagi orang lain. Baik pelajaran syar’i maupun pelajaran umum bila ilmu tersebut untuk kemajuan agama islam, insyallaah bermanfaat. Semua bisa mengaku sebagai guru namun semua guru belum tentu bisa menjadi pendidik sejati.
Wallahu a’lam bishawab


Penulis : Ummu Hamzah Galuh Pramita Sari
Muroja’ah: Ust. Aris Munandar hafidzahullah

***

Artikel muslimah.or.id

ANAK DAN MASA DEPAN UMAT ISLAM ~1~

Minggu, 23 Mei 2010

Penulis: Al Ustadz Abu Hamzah Yusuf Al Atsari

Anak adalah harapan di masa yang akan datang. Kalimat ini seringkali kita dengar dan amat lengket di benak kita. Tak ada yang memungkiri ucapan itu, karena memang ia sebuah kenyataan bukan hanya sekedar ungkapan perumpamaan, benar-benar terjadi bukan sebatas khayalan belaka.
Karenanya sudah semestinya memberikan perhatian khusus dalam hal mendidiknya sehingga kelak mereka menjadi para pengaman dan pelopor masa depan umat Islam.

Lingkungan pertama yang berperan penting menjaga keberadaan anak adalah keluarganya sebagai lembaga pendidikan yang paling dominan secara mutlak lalu kemudian kedua orangtuanya dengan sifat-sifat yang lebih khusus. Sesungguhnya anak itu adalah amanat bagi kedua orangtuanya. Di saat hatinya masih bersih, putih, sebening kaca jika dibiasakan dengan kebaikan dan diajari hal itu maka ia pun akan tumbuh menjadi seorang yang baik, bahagia di dunia dan akhirat. Sebaliknya jika dibiasakan dengan kejelekan dan hal-hal yang buruk serta ditelantarkan bagaikan binatang, maka akan tumbuh menjadi seorang yang berkepribadian rusak dan hancur. Kerugian mana yang lebih besar yang akan dipikul kedua orangtua dan umat umumnya apabila meremehkan pendidikan anak-anaknya.

Berkata Ibnul Qoyyim rahimahullah, “Bila terlihat kerusakan pada diri anak-anak, mayoritas penyebabnya adalah bersumber dari orangtuanya.” Maka Allah subhanahu wa ta’ala mengingatkan kita dengan firmanNya, “Hai orang-orang yang beriman peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkanNya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS At Tahrim: 6).

Berkata Amirul Mukminin Ali radhiyallahu ‘anhu, “Ajarilah diri-diri kalian dan keluarga-keluarga kalian kebaikan dan bimbinglah mereka.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Setiap di antara kalian adalah pemimpin dan akan dipertanggungjawabkan, seorang imam adalah pemimpin akan dipinta pertanggungjawabannya, seorang laki-laki pemimpin atas keluarganya dan akan dipinta pertanggungjawabannya, seorang wanita pemimpin dalam rumah suaminya dan ia bertanggungjawab, dan seorang budak adalah pemimpin dalam hal harta tuannya dan ia bertanggungjawab. Ketahuilah bahwa kalian semua adalah pemimpin dan akan dipinta pertanggungjawabannya.” (HR Bukhori dan Muslim dari sahabat Abdullah ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu).

Dari sahabat Anas bin Malik, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah Ta’ala akan mempertanyakan pada setiap pemimpin atas apa yang dipimpinnya, apakah ia menjaganya ataukah menyia-nyiakannya? Hingga seseorang akan bertanya kepada keluarganya.” (HR Ibnu Hibban, Ibnu Ady dalam Al Kamil, dan Abu Nu’aim dalam Al Hilyah dan dishohihkan oleh Al Hafizh dalam Al Fath 13/113).

Demikian pula dalam Shohih Bukhori dan Muslim, Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bertaqwalah kalian kepada Allah dan berbuat adillah terhadap anak-anakmu.” Sikap adil dan kasih sayang terhadap anak adalah dengan mengajari mereka kebaikan, para orangtua menjadikan dirinya sebagai madrasah bagi mereka.

Keluarga, terlebih khusus kedua orangtua dan siapa saja yang menduduki kedudukan mereka adalah unsur-unsur yang paling berpengaruh penting dalam membangun sebuah lingkungan yang mempengaruhi kepribadian sang anak dan menanamkan tekad yang kuat dalam hatinya sejak usia dini.

Seperti Zubair bin Awam misalnya. Ia adalah salah seorang dari pasukan berkudanya Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang dinyatakan oleh Umar ibnul Khattab, “Satu orang Zubair menandingi seribu orang laki-laki.” Ia seorang pemuda yang kokoh aqidahnya, terpuji akhlaqnya, tumbuh di bawah binaan ibunya Shofiyah binti Abdul Mutholib, bibinya Rosulullah dan saudara perempuannya Hamzah. Ali bin Abi Tholib sejak kecil menemani Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahkan dipilih menjadi menantunya. Ia tumbuh sebagai seorang pemuda sosok teladan bagi para pemuda seusianya di bawah didikan ibunya Fathimah binti Asad dan yang menjadi mertuanya Khodijah binti Khuwailid.

Begitu pula dengan Abdullah bin Ja’far, seorang bangsawan Arab yang terkenal kebaikannya, di bawah bimbingan ibunya Asma binti Umais. Orangtua mana yang tidak gembira jika anaknya tumbuh seperti Umar ibnu Abdul Aziz. Pada usianya yang masih kecil ia menangis, kemudian ibunya bertanya, “Apa yang membuatmu menangis?” Ia menjawab, “Aku ingat mati.” – waktu itu ia telah menghafal Al Qur’an – ibunya pun menangis mendengar penuturannya. Berkat didikan dan penjagaan ibunya yang sholihah Sufyan Ats Tsauri menjadi ulama besar, amirul mukminin dalam hal hadits. Saat ia masih kecil ibunya berkata padanya, “Carilah ilmu, aku akan memenuhi kebutuhanmu dengan hasil tenunanku.” Subhanallah! Anak-anak kita rindu akan ucapan dan kasih sayang seorang ibu yang seperti ini, seorang ibu yang pandangannya jauh ke depan. Seorang ibu yang super arif dan bijaksana.

Para pembaca -semoga dirahmati Allah- lihatlah bagaimana para pendahulu kita yang sholih, mereka mengerahkan segala usaha dan waktunya dalam rangka mentarbiyah anak-anaknya yang kelak menjadi penentu baik buruknya masa depan umat. Jangan sampai seorang pun di antara kita berprasangka mencontoh para pendahulu yang sholih adalah berarti kembali ke belakang, kembali ke zaman baheula (istilah orang Sunda). Di saat orang-orang berlomba-lomba meraih gengsi modernisasi, ketahuilah bahwa mencontoh sebaik-baik umat yang dikeluarkan ke tengah-tengah manusia adalah berarti satu kemajuan yang pesat, teknologi canggih dalam membangun aqidah yang benar, memperbaiki moral yang bejat serta membendung semaraknya free children, sehingga menghantarkan kepada apa yang telah diraih oleh generasi yang mulia yang tiada tandingannya.


7 Kesalahan mendidik anak ( 2 )

Yang ketiga :

Memasukan media perusak kedalam rumah

Diantara salah satu bentuk kesalahan dalam mendidik anak bahkan kesalahan yang sangat fatal adalah memasukan media perusak aqidah, akhlaq dan perangai anak, seperti TV, PS majalah seronok dan semisalnya kerumah. Sebagian orangtua beranggapan hal itu dilakukan untuk menyenangkan anak atau supaya anak dirumah tidak kemana-mana. Itulah kalau seseorang jauh dari ilmu agama, sengsara didunia dan diakhirat. Dia menganggap memasukan TV atau media perusak lainnya itu adalah sebagai ungkapan kasih sayang orang tua kepada anaknya, dia tidak sadar apa yang para orang tua lakukan memasukan TV kerumah sebuah perkara yang sangat berbahaya bagi anak, bagi kehidupan dunianya dan akhiratnya. TV adalah perusak aqidah, akhlak, adab, kepribadian seseorang apalagi seorang anak yang masih polos dijejali dengan hal-hal yang merusak sebagaimana yang ditayangkan ditelevisi.

Yang Keempat:

Memanjakan anak dan tidak mengajari mereka untuk memikul tanggung jawab.

Diantara kesalahan yang banyak dilakukan orang tua adalah ketika para orang tua memanjakan anaknya, memberikan semua apa yang mereka minta dan inginkan dengan dilatar belakangi karena ingin membuat mereka senang. Pengarahan atau pendidikan seperti ini merupakan sebuah kesalahan, dampak jelek dari pendidikan seperti ini akan terlihat ketika anak sudah besar, seperti sikap lari dari tanggung jawab, cengeng dalam menghadapi problema kehidupan dan dampak buruk lainnya.

Yang kelima :

Bersikap keras dan kasar kepada anak .

Sebagian orang tua ada yang menganggap bahwasanya sikap kasar, keras dengan memukul hingga membekas dibadannya misalnya atau membuat anak takut kepada dirinya adalah sebuah pendidikan yang akan menghasilkan anak yang nurut atau akan terjaga secara sebab dari ha-hal yang merusak anak. Justru hal ini akan menjadi sebab anak menjadi tertekan, minder, atau bahkan akan menjadi sebab anak benci terhadap orang tuanya.

Yang keenam :

Kurangnya perhatian orang tua kepada anak atau curahan kasih sayang orang tua kapada anak.

Hal ini diantara sekian hal yang dapat mendorong mereka mencari hal-hal itu diluar rumah. Dengan harapan bisa menemukan orang yang bisa memberikan itu semua.

Dan tidak sedikit ada seorang anak perempuan merelakan menyerahkan kehormatannya hanya karena ingin mencari kasih sayang dari seorang pria, ada juga yang terjerumus kepada kenakalan remaja dan dampak buruk lainnya hanya karena ingin mencari perhatian.

Yang Ketujuh:

Tidak memahami psikologis dan karakter anak-anak

Banyak diantara orang tua yang tidak memahami psikologis atau kejiwaan dan karakter anak-anaknya. Padahal anak-anak mempunyai pembawaan dan karakter yang berbeda-beda. Diantaranya ada yang mudah emosi, atau tersinggung atau bersikap dingin dan lain-lain. Akan tetapi orang tua tadi berinteraksi dengan anak-anak tersebut dengan pola yang sama, terlepas dari sisi kejiwaan mereka. Hal ini terkadang dapat menyebabkan penyimpangan mereka.

Wahai para orang tua inilah diantara penyimpangan dalam mendidik anak yang tidak sadar mungkin diantara kita ada yang melakukannya. Ingatlah bahwa kita akan ditanya diakhirat kelak
فَوَرَبِّكَ لَنَسْأَلَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ

“ Maka demi Rabbmu kami pasti akan menanyai mereka semua “ (Qs. Al Hijr : 92)

Rasullulah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda : “ Sesungguhnya Allah akan mempertanyakan setiap pemimpin dari apa yang telah di pimpin, apakah menjaga atau menyia-nyiakan “ ( Hadist hasan, diriwayatkan oleh Nasa’i)

Wahai para orang tua apakah kalian tega atau tidak merasa kasihan terhadap anak – anak kalian kalau anak kalian sengsara didunia dan diakhirat kelak. Bukankah kebahagiaan yang kita inginkan untuk anak-anak kita, lalu apakah artinya kebahagiaan kalau didunia seakan – akan anak kita terlihat bahagia (menurut anggapan mereka) tapi diakhirat sengsara akibat para orang tua tidak memperhatikan pendidikan yang sesuai dengan apa yang diajarkan oleh agama islam, melalaikan pendidikan agama sehingga mereka terjatuh lepada perkara-perkara yang diharamkan Allah dan tidak menunaikan kewajiban-kewajiban yang diwajibkan atas mereka. Pada hakekatnya pun mereka tidak bahagia didunia dan diakhirat mereka terancam mengalami kesengsaraan akibat mereka tidak mengenal syariat ini dan mengamalkanya.


Lorem

Please note: Delete this widget in your dashboard. This is just a widget example.

Ipsum

Please note: Delete this widget in your dashboard. This is just a widget example.

Dolor

Please note: Delete this widget in your dashboard. This is just a widget example.