<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-1610239576162246720</id><updated>2011-10-19T00:31:05.660-07:00</updated><category term='Artikel'/><category term='Tahnik bayi'/><category term='Pendidikan'/><category term='Sunnah'/><category term='Motivasi'/><category term='Ilmu'/><category term='Masa depan Ummat'/><category term='Teladan'/><category term='Kesalahan mendidik anak'/><category term='pendaftaran'/><title type='text'>TKIT FAJAR ILAHI</title><subtitle type='html'>Menuju Kejayaan Ummat dengan Al-Qur`an dan AsSunnah</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://fajarilahi.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1610239576162246720/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fajarilahi.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>@dmin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05096539022832868916</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>14</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1610239576162246720.post-7644921461463246141</id><published>2011-03-29T21:20:00.000-07:00</published><updated>2011-03-29T21:36:09.426-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pendidikan'/><title type='text'>JADILAH SANG PENDIDIK</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-uns-ugXBOyk/TZKv_BJFABI/AAAAAAAAAMQ/TFypMOd44Fc/s1600/Bunga.jpg"&gt;&lt;img style="float: right; margin: 0pt 0pt 10px 10px; cursor: pointer; width: 320px; height: 214px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-uns-ugXBOyk/TZKv_BJFABI/AAAAAAAAAMQ/TFypMOd44Fc/s320/Bunga.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5589723584693338130" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;   Pendidik atau guru adalah orang tua kedua bagi anak didiknya. Mau  tidak mau para pendidik juga berperan besar mewarnai seorang anak. Anak  laksana kertas putih yang secara fithroh bersih, suci dan orang tua  serta gurulah yang berperan besar untuk mewarnai anak menjadi merah,  hijau, kuning, atau perpaduan warna lainnya. Hal tersebut membuat  pendidik memiliki tugas dan tanggung jawab yang besar, yang tidak dapat  diremehkan dan dipandang sebelah mata. Bagi pendidik yang ikhlas dan  menjadikan tugas tersebut sebagai ladang amal maka pahala dari Allah  telah menanti. Akan tetapi akankah seorang pendidik akan selalu mulus  dan tanpa rintangan dalam melaksanakan tugasnya tersebut??? Tentu  jawabnya tidak.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Lika-liku sebagai pendidik harus dilalui, karena pendidik tidak hanya  menghadapi satu orang saja, namun bisa puluhan orang. Tidak hanya anak  didik saja yang harus pendidik hadapi, begitu juga orang tua anak didik.  Tidak mudah tentunya. Namun mengingat agung perannya seorang pendidik,  dapat menjadikan pemicu semangat untuk tidak gentar menghadapi  masalah-masalah yang dihadapi dengan anak didik. Setiap pendidik akan  dicoba dengan masalah masing-masing, dan hal tersebut dapat mendewasakan  sang pendidik dari waktu ke waktu. Hingga suatu saat ia mampu berdiri  setegar karang, yang mampu menghadapi benturan ombak yang kian membesar.  Senyum, tangis, guratan kesedihan maupun kekhawatiran menjadi bumbu  bagi pendidik. Senyum dan tawa mengiringi langkah keberhasilan anak  didik. Guratan kesedihan maupun kekhawatiran tersimpan hingga terkadang  teruraikan air mata bila melihat kemunduran atau bahkan kemerosotan ynag  dihadapi anak didik baik dari segi akademik maupun akhlak. Harus  bagaimana lagi agar dapat menjadi guru yang pengertian terhadap  anak-didik. Harus melakukan apa lagi agar anak didik dapat menjadi lebih  baik. Satu masalah terurai dan selesai muncullah masalah yang baru yang  harus dihadapi lagi. Seakan-akan masalah tak ada henti-hentinya dari  hari ke hari.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Wahai para pendidik bersabarlah, hingga waktu dimana kau menuai pahala akan tiba!&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Penulis ini juga belum menjadi pendidik yang baik namun baru berusaha  menjadi pendidik yang baik bagi anak didiknya. Tentunya banyak belajar  baik dari teori maupun pengalaman bagaimana cara mendidik yang benar dan  efektif.Untuk itu salah satu cara adalah pendidik harus cerdik   mengetahui hal-hal yang penting dalam mendidik. Hal-hal yang penting  tersebut antara lain :&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Ikhlas&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Pendidik harus memiliki niat yang ikhlas dalam mendidik anak-anak  didiknya. Hal tersebut agar membedakan antara niat kebiasaan dan niat  ibadah. Jadi tatkala pendidik meniatkan mendidik untuk mencari pahala di  sisi Allah, maka akan berbeda jika pendidik tanpa ada niat dihati,  pergi pagi pulang siang ke sekolah dan hanya menjadikan hal tersebut  sebagai rutinitas belaka. Dan niat tersebut harus ikhlas, karena niat  yang ikhlas adalah bagian terpenting agar tidak menjadi amalan yang  kosong. Sebagaimana Imam Nawawi rahimahullah menempatkan niat di hadist  pertama dalam kitab Hadist Arba’in, yang isinya adalah:&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dari Amirul Mukminin, Abu Hafsh ‘Umar bin Al Khaththab &lt;em&gt;radhiyallohu’anhu&lt;/em&gt;, dia berkata, &lt;em&gt;“Aku  telah mendengar Rasulullah bersabda, ‘Sesungguhnya setiap perbuatan itu  tergantung niatnya. Dan sesungguhnya setiap orang (akan dibalas)  berdasarkan apa yang dia niatkan. Barangsiapa yang hijarhnya karena  (Ingin mendapat keridhaan) Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada  (keridhaan) Allah dan Rasul-Nya. Dan siapa yang hijarhnya karena dunia  yang dikehendakinya atau kerana wanita yang ingin dinikahinya, maka  hijrahnya (akan bernilai sebagaimana) yang dia niatkan.” &lt;/em&gt;(HR. Bukhari)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Jauhkan sifat &lt;em&gt;riya&lt;/em&gt;‘ dari diri Sang Pendidik. Rasa ingin  dipuji karena ketinggian ilmu, rasa ingin di sanjung dengan keahlian  yang dimiliki. Wahai para pendidik, ingatlah bahwa kau dapat mengajarkan  ilmu yang sekarang kau ajarkan karena menang selangkah. Dalam artian  kau lebih dahulu menimba ilmu yang kau berikan sebelum anak didikmu.  Mungkin jika kau duduk bersama bersanding dengan anak didikmu, belum  tentu kau lebih faham dari mereka. Terbukti banyak sekali anak didik  yang ilmunya melebihi ilmu sang guru. Dan juga  ingatlah ilmu tersebut  berasal dari Allah. Allah yang memahamkan kepadamu.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Ilmu yang kau dapatkan jangan sekedar kau gadaikan demi sesuap nasi&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Kau menjadi angkuh dan menilai ketinggian ilmumu dengan rupiah. &lt;em&gt;Waliyyadzubillah. &lt;/em&gt;Ingatlah  bahwa rizqi adalah dari Allah. Kau dapat pendidikan yang tinggi itu  juga rizqi-Nya, kau dapat kecerdasan juga karena rizqi-Nya. Kau faham  akan ilmu yang kau pelajari juga karena rizqi-Nya. Dan kau mendapat  kesempatan menularkan ilmu kepada yang lain juga tak lepas dari  Rizqi-Nya. Ikhlas, ikhlas, dan ikhlas. Kata yang sangat mudah terucap  namun sulit dalam mempraktekkannya. Ikhlas dalam melaksanakan  tugas-tugasnya. Cek, cek dan cek lagi hati agar tak lepas dari  keikhlasan. Bagaimanapun inilah ladang amal yang besar yang tidak boleh  disia-siakan. Maka berjuanglah!!!&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Keteladanan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Pendidik tidak hanya mengajar namun juga mendidik. Jika mengajar,  setelah bahan ajar disampaikan, sudah lepaslah tanggung jawab, namun  jika mendidik adalah lebih menuju ke arah memberikan pemahaman baik segi  akademik maupun  segi mental  anak didiknya. Pendidik akan lebih  dihargai dan lebih didengar tatkala ia tidak asal bunyi saja alias asal  berbicara (menasehati dan menasehati) namun lebih ke suri teladan.  Melihat dengan contoh lebih mudah dipahami oleh anak daripada sekedar  mendengar, karena perilaku merupakan cermin berfikirnya. Sebagai contoh  yang mudah, tatkala ada kerja bakti kelas, pendidik hanya menyuruh ini  itu, sedangkan ia santai melenggang pergi atau hanya mondar-mandir saja,  maka akan terjadi protes pada diri anak didik, Karena perintah tersebut  tak terwujud dalam tindakan. Mungkin benar bahwa sebagai pendidik  adalah yang mengarahkan namun alangkah lebih bagus lagi selagi  mengarahkan pendidik juga memberikan contoh. Hal tersebut sepele namun  akan benar-benar membekas. Siapa tahu tatkala anak didik  menjadi  pendidik, ia akan cenderung bersikap sebagaimana pendidik ajarkan dahulu  yaitu menjadi jiwa penyuruh tanpa mau meneladani. Bila seorang pendidik  benar dalam perkataannya dan dibuktikan dalam perbuatannya anak akan  tumbuh dengan semua prinsip-prinsip pendidikan yang tertancap dalam  pikirannya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Allah juga telah memperingatkan bagi pendidik yang berbuat berlainan dengan ucapannya, Allah berfirman,&lt;br /&gt;&lt;em&gt;“Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang  tidak kamu perbuat? Amat besar kebencian disisi Allah bahwa kamu  mengatakan apa saja yang tidak kamu perbuat&lt;/em&gt;.” (QS. Ash-Shaf: 2-3)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Disiplin&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Menegakkan kedisiplinan berbeda dengan pengekangan. Memang sedikit agak  sukar dibedakan, karena begitu banyak aturan yang harus ditegakkan saat  menerapkan kedisiplinan. Akan tetapi jika diamati lebi cermat terdapat  perbedaan mencolok diantara keduanya, Pengekangan akan sangat merugikan  anak didiknya yang akan dirasakan sekarang maupun dilain waktu, namun  disiplin akan menimbulkan pengekangan anak didik di awal saja, disaat  mereka baru beradaptasi dengan bentuk kedisiplinan tersebut, jika sudah  berulang kali melaksanakannya dan biasa maka mereka akan merasakan  betapa bermanfaat disiplin tersebut bagi dirinya. Hal yang kecil yang  dapat dilakukan, misalnya disiplin masuk kelas, disiplin terhadap  peraturan yang ada di kelas atau sekolah.&lt;br /&gt;Islampun telah mengajarkan kedisiplinan yaitu tercermin dalam shalat  wajib tepat waktu, tidak boleh mengulur-ulur hingga akhir waktu bahkan  keluar dari waktu yang telah ditentukan. Juga disunnahkan untuk  mengucapkan salam jika bertemu saudara muslim yang lain, dan wajib untuk  menjawabnya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Amanah Ilmiah&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Hal tersebut yang sering sekali terlupa oleh sang pendidik,  yaitu amanah ilmiah. Amanah Ilmiah tersebut harus dijalankan disaat  memberikan pelajaran, sehingga pelajaran yang dibawakan bukan sekedar  asal bunyi belaka. Kadang ada pendidik yang kurang menjalankan amanah  ilmiah ini, dengan sekedar mengabarkan tanpa memberikan rujukan-rujukan  yang terpercaya, atau bahkan pelajaran hanya diisi dengan cerita  pengalaman yang mungkin tidak ada hubungannya dengan pelajaran sama  sekali.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Dapat mengkondisikan kelas&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Terkadang tidak semua pendidik mampu mengkondisikan kelas,  tidak mampu dalam mengendalikan anak didik, akhirnya target pelajaran  tak terkejar, kelas dalam suasana gaduh dan anak didik bersikap  semaunya. Tidak dapat dibiarkan, untuk situasi semacam ini pendidik  harus pandai memutar otak agar dapat mengendalikan kelas tanpa harus  beradu mulut dengan anak didiknya. Memang sulit apalagi jika dalam satu  kelas terdiri dari 20 anak lebih, yang masing-masing dari mereka  memiliki pemikiran sendiri. Jangan menyerah insyaallaah akan selalu ada  jalan bagi pendidik yang sabar dan berpikiran jernih.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Bertindaklah bak seorang pendidik sedang bermain layang-layang&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Ibarat ini memiliki arti bahwa pendidik harus mampu menempatkan  diri sebagai pemain layang-layang, dan layang-layang tersebut sebagai  anak didik. Pendidik harus dapat menarik-ulur layang-layang tersebut,  menarik layang-layang dengan artian tatkala anak didik mulai melanggar  peraturan atau anak didik mulai tidak mengindahkan nasehat pendidik maka  pendidik bisa bersikap tegas namun bukan mendzalimi. Dan mengulur  layang-layang artinya tatkala anak didik mulai disiplin, taat kepada  aturan yang ada dan bersemangat untuk menuntut ilmu, pendidik dapat  memberikan kelemahlembutan namun bukan lemah. Kelemahlembutan misalnya  dengan memberi mereka hadiah berupa pujian atau mengadakan kejutan kecil  untuk mereka, seperti memberi hadiah buku dsb. Karena Allah pun  menyuruh pendidik agar berlemah lembut, dari Jarir bin Abdullah &lt;em&gt;radhiyallahu’anhu&lt;/em&gt;, Rasulullah &lt;em&gt;shallallahu’alaihi wa sallam&lt;/em&gt; bersabda,&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt;“Barangsiapa yang tidak diberi sifat kelembutan maka ia tidak memiliki kebaikan sama sekali.”&lt;/em&gt; (HR. Muslim 2592)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Jauhilah Mengeluh dan Putus asa&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Ingatlah selalu, pahala yang akan diraih. Mengeluh akan membuka pintu  setan sehingga pendidik, menyerah sedangkan berputus asa akan dapat  memutuskan ladang amalan yang seharusnya pendidik dapatkan. Semangat  harus selalu dipupuk tatkala mulai timbul kejenuhan, keruwetan dalam  menghadapi lika-liku dalam mendidik.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Dan yang terpenting adalah DOA&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Serahkan semua permasalahan kepada Allah, dan Allah lah tempat mengadu.  Bisa jadi anak yang semula buruk akan berubah menjadi baik dengan izin  Allah karena wasilah dari doa yang pendidik panjatkan. Allah Subhanahu  wa Ta’alla berfirman,&lt;br /&gt;” Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka  (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan  orang yang mendoa apabila ia berdoa kepadaKu.” (QS. Al-Baqarah : 186)&lt;br /&gt;Bagaimanapun hati manusia ada di antara jari-jari Allah. Sebagaimana  hati anak-anak pula yang berada diantara jari-jari Allah, hanya Dia yang  dapat membolak-balikkan hati hamba-Nya. Adukan semua kepada-Nya, dan  memohonlah agar mendapatkan kemudahan.&lt;br /&gt;“Ya Allah, lapangkanlah dadaku, mudahkanlah urusanku dan lunakkanlah  lidahku agar manusia dapat memahami perkataanku.” (QS. Thaahaa: 25-28)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Bersyukurlah karena dalam garis hidup ini ada waktu untuk memberikan  ilmu walau sedikit kepada orang lain. Mungkin itulah salah satu cara  agar dapat bermanfaat bagi orang lain. Baik pelajaran syar’i maupun  pelajaran umum bila ilmu tersebut  untuk kemajuan agama islam,  insyallaah bermanfaat. Semua bisa mengaku sebagai guru namun semua guru  belum tentu bisa menjadi pendidik sejati.&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Wallahu a’lam bishawab&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;em&gt;&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Penulis : Ummu Hamzah Galuh Pramita Sari&lt;br /&gt;Muroja’ah: Ust. Aris Munandar hafidzahullah&lt;/p&gt; &lt;p&gt;***&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Artikel &lt;a href="http://muslimah.or.id/aqidah/jadilah-sang-pendidik.html"&gt;muslimah.or.id&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1610239576162246720-7644921461463246141?l=fajarilahi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fajarilahi.blogspot.com/feeds/7644921461463246141/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://fajarilahi.blogspot.com/2011/03/jadilah-sang-pendidik.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1610239576162246720/posts/default/7644921461463246141'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1610239576162246720/posts/default/7644921461463246141'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fajarilahi.blogspot.com/2011/03/jadilah-sang-pendidik.html' title='JADILAH SANG PENDIDIK'/><author><name>@dmin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05096539022832868916</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-uns-ugXBOyk/TZKv_BJFABI/AAAAAAAAAMQ/TFypMOd44Fc/s72-c/Bunga.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1610239576162246720.post-2198879968084446384</id><published>2010-05-23T20:51:00.000-07:00</published><updated>2010-05-23T20:52:51.286-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Masa depan Ummat'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pendidikan'/><title type='text'>ANAK DAN MASA DEPAN UMAT ISLAM ~1~</title><content type='html'>&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(51, 51, 51); "&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:'times new roman';"&gt;Penulis: Al Ustadz Abu Hamzah Yusuf Al Atsari&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak adalah harapan di masa yang akan datang. Kalimat ini seringkali kita dengar dan amat lengket di benak kita. Tak ada yang memungkiri ucapan itu, karena memang ia sebuah kenyataan bukan hanya sekedar ungkapan perumpamaan, benar-benar terjadi bukan sebatas khayalan belaka.&lt;br /&gt;Karenanya sudah semestinya memberikan perhatian khusus dalam hal mendidiknya sehingga kelak mereka menjadi para pengaman dan pelopor masa depan umat Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lingkungan pertama yang berperan penting menjaga keberadaan anak adalah keluarganya sebagai lembaga pendidikan yang paling dominan secara mutlak lalu kemudian kedua orangtuanya dengan sifat-sifat yang lebih khusus. Sesungguhnya anak itu adalah amanat bagi kedua orangtuanya. Di saat hatinya masih bersih, putih, sebening kaca jika dibiasakan dengan kebaikan dan diajari hal itu maka ia pun akan tumbuh menjadi seorang yang baik, bahagia di dunia dan akhirat. Sebaliknya jika dibiasakan dengan kejelekan dan hal-hal yang buruk serta ditelantarkan bagaikan binatang, maka akan tumbuh menjadi seorang yang berkepribadian rusak dan hancur. Kerugian mana yang lebih besar yang akan dipikul kedua orangtua dan umat umumnya apabila meremehkan pendidikan anak-anaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkata Ibnul Qoyyim rahimahullah, “Bila terlihat kerusakan pada diri anak-anak, mayoritas penyebabnya adalah bersumber dari orangtuanya.” Maka Allah subhanahu wa ta’ala mengingatkan kita dengan firmanNya, “Hai orang-orang yang beriman peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkanNya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS At Tahrim: 6).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkata Amirul Mukminin Ali radhiyallahu ‘anhu, “Ajarilah diri-diri kalian dan keluarga-keluarga kalian kebaikan dan bimbinglah mereka.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Setiap di antara kalian adalah pemimpin dan akan dipertanggungjawabkan, seorang imam adalah pemimpin akan dipinta pertanggungjawabannya, seorang laki-laki pemimpin atas keluarganya dan akan dipinta pertanggungjawabannya, seorang wanita pemimpin dalam rumah suaminya dan ia bertanggungjawab, dan seorang budak adalah pemimpin dalam hal harta tuannya dan ia bertanggungjawab. Ketahuilah bahwa kalian semua adalah pemimpin dan akan dipinta pertanggungjawabannya.” (HR Bukhori dan Muslim dari sahabat Abdullah ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sahabat Anas bin Malik, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah Ta’ala akan mempertanyakan pada setiap pemimpin atas apa yang dipimpinnya, apakah ia menjaganya ataukah menyia-nyiakannya? Hingga seseorang akan bertanya kepada keluarganya.” (HR Ibnu Hibban, Ibnu Ady dalam Al Kamil, dan Abu Nu’aim dalam Al Hilyah dan dishohihkan oleh Al Hafizh dalam Al Fath 13/113).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian pula dalam Shohih Bukhori dan Muslim, Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bertaqwalah kalian kepada Allah dan berbuat adillah terhadap anak-anakmu.” Sikap adil dan kasih sayang terhadap anak adalah dengan mengajari mereka kebaikan, para orangtua menjadikan dirinya sebagai madrasah bagi mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keluarga, terlebih khusus kedua orangtua dan siapa saja yang menduduki kedudukan mereka adalah unsur-unsur yang paling berpengaruh penting dalam membangun sebuah lingkungan yang mempengaruhi kepribadian sang anak dan menanamkan tekad yang kuat dalam hatinya sejak usia dini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti Zubair bin Awam misalnya. Ia adalah salah seorang dari pasukan berkudanya Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang dinyatakan oleh Umar ibnul Khattab, “Satu orang Zubair menandingi seribu orang laki-laki.” Ia seorang pemuda yang kokoh aqidahnya, terpuji akhlaqnya, tumbuh di bawah binaan ibunya Shofiyah binti Abdul Mutholib, bibinya Rosulullah dan saudara perempuannya Hamzah. Ali bin Abi Tholib sejak kecil menemani Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahkan dipilih menjadi menantunya. Ia tumbuh sebagai seorang pemuda sosok teladan bagi para pemuda seusianya di bawah didikan ibunya Fathimah binti Asad dan yang menjadi mertuanya Khodijah binti Khuwailid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu pula dengan Abdullah bin Ja’far, seorang bangsawan Arab yang terkenal kebaikannya, di bawah bimbingan ibunya Asma binti Umais. Orangtua mana yang tidak gembira jika anaknya tumbuh seperti Umar ibnu Abdul Aziz. Pada usianya yang masih kecil ia menangis, kemudian ibunya bertanya, “Apa yang membuatmu menangis?” Ia menjawab, “Aku ingat mati.” – waktu itu ia telah menghafal Al Qur’an – ibunya pun menangis mendengar penuturannya. Berkat didikan dan penjagaan ibunya yang sholihah Sufyan Ats Tsauri menjadi ulama besar, amirul mukminin dalam hal hadits. Saat ia masih kecil ibunya berkata padanya, “Carilah ilmu, aku akan memenuhi kebutuhanmu dengan hasil tenunanku.” Subhanallah! Anak-anak kita rindu akan ucapan dan kasih sayang seorang ibu yang seperti ini, seorang ibu yang pandangannya jauh ke depan. Seorang ibu yang super arif dan bijaksana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para pembaca -semoga dirahmati Allah- lihatlah bagaimana para pendahulu kita yang sholih, mereka mengerahkan segala usaha dan waktunya dalam rangka mentarbiyah anak-anaknya yang kelak menjadi penentu baik buruknya masa depan umat. Jangan sampai seorang pun di antara kita berprasangka mencontoh para pendahulu yang sholih adalah berarti kembali ke belakang, kembali ke zaman baheula (istilah orang Sunda). Di saat orang-orang berlomba-lomba meraih gengsi modernisasi, ketahuilah bahwa mencontoh sebaik-baik umat yang dikeluarkan ke tengah-tengah manusia adalah berarti satu kemajuan yang pesat, teknologi canggih dalam membangun aqidah yang benar, memperbaiki moral yang bejat serta membendung semaraknya free children, sehingga menghantarkan kepada apa yang telah diraih oleh generasi yang mulia yang tiada tandingannya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(51, 51, 51); "&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:'times new roman';"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 13px; color: rgb(51, 51, 51); "&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1610239576162246720-2198879968084446384?l=fajarilahi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fajarilahi.blogspot.com/feeds/2198879968084446384/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://fajarilahi.blogspot.com/2010/05/anak-dan-masa-depan-umat-islam-1.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1610239576162246720/posts/default/2198879968084446384'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1610239576162246720/posts/default/2198879968084446384'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fajarilahi.blogspot.com/2010/05/anak-dan-masa-depan-umat-islam-1.html' title='ANAK DAN MASA DEPAN UMAT ISLAM ~1~'/><author><name>@dmin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05096539022832868916</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1610239576162246720.post-7522804055622781513</id><published>2010-05-23T20:44:00.000-07:00</published><updated>2010-05-23T20:46:40.876-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kesalahan mendidik anak'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pendidikan'/><title type='text'>7 Kesalahan mendidik anak ( 2 )</title><content type='html'>&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(51, 51, 51); "&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:'times new roman';"&gt;Yang ketiga :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memasukan media perusak kedalam rumah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diantara salah satu bentuk kesalahan dalam mendidik anak bahkan kesalahan yang sangat fatal adalah memasukan media perusak aqidah, akhlaq dan perangai anak, seperti TV, PS majalah seronok dan semisalnya kerumah. Sebagian orangtua beranggapan hal itu dilakukan untuk menyenangkan anak atau supaya anak dirumah tidak kemana-mana. Itulah kalau seseorang jauh dari ilmu agama, sengsara didunia dan diakhirat. Dia menganggap memasukan TV atau media perusak lainnya itu adalah sebagai ungkapan kasih sayang orang tua kepada anaknya, dia tidak sadar apa yang para orang tua lakukan memasukan TV kerumah sebuah perkara yang sangat berbahaya bagi anak, bagi kehidupan dunianya dan akhiratnya. TV adalah perusak aqidah, akhlak, adab, kepribadian seseorang apalagi seorang anak yang masih polos dijejali dengan hal-hal yang merusak sebagaimana yang ditayangkan ditelevisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang Keempat:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memanjakan anak dan tidak mengajari mereka untuk memikul tanggung jawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diantara kesalahan yang banyak dilakukan orang tua adalah ketika para orang tua memanjakan anaknya, memberikan semua apa yang mereka minta dan inginkan dengan dilatar belakangi karena ingin membuat mereka senang. Pengarahan atau pendidikan seperti ini merupakan sebuah kesalahan, dampak jelek dari pendidikan seperti ini akan terlihat ketika anak sudah besar, seperti sikap lari dari tanggung jawab, cengeng dalam menghadapi problema kehidupan dan dampak buruk lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang kelima :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersikap keras dan kasar kepada anak .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian orang tua ada yang menganggap bahwasanya sikap kasar, keras dengan memukul hingga membekas dibadannya misalnya atau membuat anak takut kepada dirinya adalah sebuah pendidikan yang akan menghasilkan anak yang nurut atau akan terjaga secara sebab dari ha-hal yang merusak anak. Justru hal ini akan menjadi sebab anak menjadi tertekan, minder, atau bahkan akan menjadi sebab anak benci terhadap orang tuanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang keenam :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kurangnya perhatian orang tua kepada anak atau curahan kasih sayang orang tua kapada anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini diantara sekian hal yang dapat mendorong mereka mencari hal-hal itu diluar rumah. Dengan harapan bisa menemukan orang yang bisa memberikan itu semua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan tidak sedikit ada seorang anak perempuan merelakan menyerahkan kehormatannya hanya karena ingin mencari kasih sayang dari seorang pria, ada juga yang terjerumus kepada kenakalan remaja dan dampak buruk lainnya hanya karena ingin mencari perhatian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang Ketujuh:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak memahami psikologis dan karakter anak-anak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak diantara orang tua yang tidak memahami psikologis atau kejiwaan dan karakter anak-anaknya. Padahal anak-anak mempunyai pembawaan dan karakter yang berbeda-beda. Diantaranya ada yang mudah emosi, atau tersinggung atau bersikap dingin dan lain-lain. Akan tetapi orang tua tadi berinteraksi dengan anak-anak tersebut dengan pola yang sama, terlepas dari sisi kejiwaan mereka. Hal ini terkadang dapat menyebabkan penyimpangan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai para orang tua inilah diantara penyimpangan dalam mendidik anak yang tidak sadar mungkin diantara kita ada yang melakukannya. Ingatlah bahwa kita akan ditanya diakhirat kelak&lt;br /&gt;فَوَرَبِّكَ لَنَسْأَلَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Maka demi Rabbmu kami pasti akan menanyai mereka semua “ (Qs. Al Hijr : 92)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasullulah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda : “ Sesungguhnya Allah akan mempertanyakan setiap pemimpin dari apa yang telah di pimpin, apakah menjaga atau menyia-nyiakan “ ( Hadist hasan, diriwayatkan oleh Nasa’i)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai para orang tua apakah kalian tega atau tidak merasa kasihan terhadap anak – anak kalian kalau anak kalian sengsara didunia dan diakhirat kelak. Bukankah kebahagiaan yang kita inginkan untuk anak-anak kita, lalu apakah artinya kebahagiaan kalau didunia seakan – akan anak kita terlihat bahagia (menurut anggapan mereka) tapi diakhirat sengsara akibat para orang tua tidak memperhatikan pendidikan yang sesuai dengan apa yang diajarkan oleh agama islam, melalaikan pendidikan agama sehingga mereka terjatuh lepada perkara-perkara yang diharamkan Allah dan tidak menunaikan kewajiban-kewajiban yang diwajibkan atas mereka. Pada hakekatnya pun mereka tidak bahagia didunia dan diakhirat mereka terancam mengalami kesengsaraan akibat mereka tidak mengenal syariat ini dan mengamalkanya.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#333333;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:'times new roman';"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 13px; color: rgb(51, 51, 51); "&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1610239576162246720-7522804055622781513?l=fajarilahi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fajarilahi.blogspot.com/feeds/7522804055622781513/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://fajarilahi.blogspot.com/2010/05/7-kesalahan-mendidik-anak-2.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1610239576162246720/posts/default/7522804055622781513'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1610239576162246720/posts/default/7522804055622781513'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fajarilahi.blogspot.com/2010/05/7-kesalahan-mendidik-anak-2.html' title='7 Kesalahan mendidik anak ( 2 )'/><author><name>@dmin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05096539022832868916</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1610239576162246720.post-6770054480671692818</id><published>2010-05-23T20:22:00.000-07:00</published><updated>2010-05-23T20:44:13.491-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kesalahan mendidik anak'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pendidikan'/><title type='text'>7 Kesalahan mendidik anak ( 1 )</title><content type='html'>&lt;span class="Apple-style-span" style="  color: rgb(51, 51, 51); "&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:'times new roman';"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;Ibu adalah tempat pendidikan pertama bagi anak-anak dan rumah adalah sebuah batu bata yang dengannya batu bata serupa terbentuk menjadi bangunan masyarakat. Di dalam rumah yang terbangun di atas pondasi menjaga ketentuan-ketentuan Allah, yang tegak dengan pilar-pilar kecintaan, kasih sayang, sikap itsar (mengutamakan orang lain) dan saling membantu dalam kebajikan dan taqwa, di dalam rumah seperti inilah akan lahir generasi pilihan ummat, anak sholeh dambaan setiap orang tua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum seorang anak terdidik di tempat pendidikan dan masyarakat, rumah dan keluargalah yang terlebih dahulu mendidiknya. Seorang anak ibarat peminjam yang dari kedua orang tuanya ia mendapatkan pinjaman prilaku luhur, sebagaimana kedua orang tuanya bertanggung jawab dalam porsi besar dalam penyimpangan prilaku anak. Betapapun besar tanggung jawab ini, namun banyak orang tua yang mengabaikannya dan tidak melaksanakan sebagaimana semestinya, akibatnya mereka menelantarkan anak dan melalaikan pendidikan mereka. Kemudian, bila terlihat penyimpangan pada prilaku anak-anak merekapun berkeluh kesah. Mereka tidak sadar bahwa merekalah sebab pertama bagi penyimpangan tersebut, yaitu akibat mereka melalaikan amanah anak yang Allah berikan kepada mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah berfirman :&lt;br /&gt;يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَخُونُوا اللهَ وَالرَّسُولَ وَتَخُونُوا أَمَانَاتِكُمْ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Hai orang-orang yang beriman janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanah-amanah yang dipercayakan kepadamu, sedangkan kamu mengetahuinya ” (QS. Al-Anfaal : 27)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda : “ Setiap kalian adalah pemimpin dan akan ditanya tentang kepemimpinannya. Seorang suami pemimpin dirumahnya dan akan ditanya tentang kepemimpinannya, dan seorang istri pemimpin di rumah suaminya dan akan ditanya tentang kepemimpinannya”. ( HR. Bukhari daN Muslim dari Abdullah Bin Umar Radiyalallahu ‘Anhu)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan dalam riwayat Muslim : “Dan anakmu mempunyai hak atasmu”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak bentuk-bentuk pelalaian atau kesalahan pendidikan anak yang dilakukan oleh orang tua,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7 diantaranya :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang pertama :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memasukkan anak ke tempat pendidikan atau sekolah yang di dalamnya mengajarkan hal-hal yang bertentangan dengan aqidah, tauhid dan terdapat pelanggaran syar’i di dalamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keimanan, tauhid serta aqidah adalah perkara yang terpenting yang kita miliki, sangat ironis sekali kalau ada orang tua yang mengorbankan aqidah anaknya hanya dengan tujuan dapat ijazah di sekolah umum misalnya atau bahkan sekolah Kristen atau Hindu hanya karena sekolah itu bagus atau ternama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasululllah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda : “ Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrahnya (Islam), bapaknyalah yang menjadikannya Yahudi atau Nasrani atau Majusi “ (HR. Bukhari dari Abu Hurairah Radiyalallahu ‘Anhu)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah para orang tua tidak takut terhadap suatu hari yang mereka akan dimintai pertanggung jawabkan atas apa yang mereka lakukan, atas amanah anak yang mereka abaikan, atas agama anak yang mereka tidak perdulikan…!!! Lalu setelah itu mereka berharap mempunyai anak yang sholeh ???!!!.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lihat seorang bapak yang sholeh, mewasiatkan anaknya tentang perkara dien, tentang perkara tauhid tentang perkara aqidah, tentang supaya anaknya berhati – hati dari hal-hal yang membatalkan keimanannya. Sebagaimana yang Allah khabarkan tentang hamba yang sholeh Luqman yang berkata kepada anaknya&lt;br /&gt;وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لا تُشْرِكْ بِاللهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Dan ( ingatlah ) ketika Luqman berkata kepada anaknya “ Hai anakku janganlah kamu mempersekitukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan Allah benar-benar kedzaliman yang besar “ (Qs. Luqman :13)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai para orang tua selektiplah dalam memilih tempat pendidikan, jangan engkau masukkan anak-anakmu ketempat pendidikan yang disana terdapat pelanggaran terhadap syariat islam apalagi pelanggaran terhadap aqidah islamiyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang kedua :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melalaikan pendidikan agama terhadap anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diantara bentuk pelalaian yang sangat besar adalah ketika orangtua melalaikan pendidikan agama anak-anaknya. Perbuatan seperti ini merupakan pelanggaran amanah anak yang paling besar, sebagian orang tua menganggap dirinya sukses ketika anaknya selesai menempuh pendidikan sarjana atau insinyur atau yang sejenisnya. Dia lupa bahwa sukses mendidik anak adalah ketika pendidikkan orang tua menjadi sebab anaknya menjadi anak sholeh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasululllah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda : “ Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan pada seseorang maka Allah pahamkan agama pada orang tersebut” (HR. Bukhari dan Muslim dari Muawiyah Radiyalallahu ‘Anhu)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hadist lain Rasululllah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jika mati seorang manusia, maka putuslah amalnya kecuali 3 perkara :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. 1. Shadaqah Jariyah&lt;br /&gt;2. 2. Ilmu yang bermanfaat&lt;br /&gt;3. 3. Anak sholeh yang mendoakan kedua orang tuanya”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(HR. Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang lebih ironisnya lagi, sudah orang tua melalaikan pendidikan agama anaknya, lalu ketika anaknya Allah kehendaki kebaikkan dengan Allah beri hidayah untuk menuntut ilmu agama diluar sana, untuk mengenal tauhid dan aqidah yang benar, untuk melaksakan sholat berjama’ah, untuk mengenakan hijab, untuk memelihara jengot, untuk berpakaian diatas mata kaki malah orang tua melarangnya atau memarahinya…!!!&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="  color: rgb(51, 51, 51); "&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:'times new roman';"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1610239576162246720-6770054480671692818?l=fajarilahi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fajarilahi.blogspot.com/feeds/6770054480671692818/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://fajarilahi.blogspot.com/2010/05/7-kesalahan-mendidik-1.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1610239576162246720/posts/default/6770054480671692818'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1610239576162246720/posts/default/6770054480671692818'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fajarilahi.blogspot.com/2010/05/7-kesalahan-mendidik-1.html' title='7 Kesalahan mendidik anak ( 1 )'/><author><name>@dmin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05096539022832868916</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1610239576162246720.post-5604945250345743097</id><published>2010-03-04T00:32:00.000-08:00</published><updated>2010-03-04T00:33:21.701-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Teladan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pendidikan'/><title type='text'>Mendidik dengan Keteladanan</title><content type='html'>&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Arial, Helvetica, Georgia, sans-serif; font-size: 12px; color: rgb(51, 51, 51); line-height: 18px; "&gt;&lt;h3 style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; padding-top: 9px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; font-family: Arial, Helvetica, Georgia, sans-serif; "&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 128, 0); "&gt;&lt;em&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: x-small;"&gt;Oleh: Al-Ustadz Abulfaruq Ayip Syafruddin&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h3&gt;&lt;p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; padding-top: 10px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; "&gt;Sebagai agama yang ajarannya mencakup semua aspek kehidupan, Islam telah mengatur pula masalah pendidikan. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberi teladan, apa dan bagaimana memberikan pendidikan terbaik bagi anak-anak. Karenanya, adalah sebuah kemestian, seseorang yang menghendaki pendidikan anaknya membuahkan hasil terbaik untuk meneladani Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللهَ كَثِيرًا “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (Al-Ahzab: 21) Pendidikan yang diajarkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bukan dilandasi hawa nafsu. Tidak pula lantaran menjiplak model-model pendidikan yang berkembang di masa itu. Tapi, apa yang diajarkan benar-benar karena didasari wahyu.&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; padding-top: 10px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; "&gt;&lt;span id="more-106"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; padding-top: 10px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; "&gt;Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:&lt;br /&gt;وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَى. إِنْ هُوَ إِلاَّ وَحْيٌ يُوحَى&lt;br /&gt;“Dan tiadalah yang diucapkannya itu menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).” (An-Najm: 3-4)&lt;br /&gt;Bagi seorang muslim wajib hukumnya meneladani Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, termasuk dalam masalah pendidikan. Islam tidak akan menolerir model-model pendidikan yang meracuni anak didik dengan nilai-nilai kesyirikan, kekufuran, dan kerusakan akhlak. Di tengah dahsyatnya gempuran berbagai model pendidikan yang dijejalkan kepada kaum muslimin, keharusan untuk merujuk kepada apa yang telah diajarkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah suatu yang sangat urgen (penting). Maka, tiada pilihan lain bagi seorang muslim kecuali menerapkan apa yang diajarkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:&lt;br /&gt;وَمَا ءَاتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا وَاتَّقُوا اللهَ إِنَّ اللهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ&lt;br /&gt;“Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah; dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat keras hukuman-Nya.” (Al-Hasyr: 7)&lt;br /&gt;Bagaimana model pendidikan yang diterapkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam? Yang utama sekali ditanamkan adalah menyangkut masalah tauhid, mengenyahkan kesyirikan. Ajari dan pahamkan anak dengan masalah tauhid. Lantaran misi menanamkan tauhid dan memberantas kesyirikan inilah para rasul Allah Subhanahu wa Ta’ala diutus kepada kaumnya. Nabi Nuh ‘alaihissalam diutus kepada kaumnya, misi utamanya adalah mendakwahkan dan mendidik kaumnya dengan tauhid. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:&lt;br /&gt;لَقَدْ أَرْسَلْنَا نُوحًا إِلَى قَوْمِهِ فَقَالَ يَاقَوْمِ اعْبُدُوا اللهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ إِنِّي أَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ عَظِيمٍ&lt;br /&gt;“Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya lalu ia berkata: ‘Wahai kaumku sembahlah Allah, sekali-kali tak ada ilah bagimu selain-Nya.’ Sesungguhnya (kalau kamu tidak menyembah Allah), aku takut kamu akan ditimpa azab hari yang besar (kiamat).” (Al-A’raf: 59)&lt;br /&gt;Begitu pula yang diserukan para nabiyullah yang lainnya, seperti Nabi Hud ‘alaihissalam yang diutus kepada kaum ‘Ad, Nabi Shalih ‘alaihissalam yang diutus kepada kaum Tsamud, dan Nabi Syu’aib ‘alaihissalam yang berdakwah kepada penduduk Madyan. Semuanya mendakwahkan satu seruan, yaitu:&lt;br /&gt;اعْبُدُوا اللهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ&lt;br /&gt;“Sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada ilah bagimu (yang berhak disembah) selain-Nya.” (Al-A’raf: 65, 78, 85)&lt;br /&gt;Semua menyerukan kalimat yang sama: tauhid. Semua memberikan pendidikan dan pengajaran kepada umatnya dengan kalimat yang satu, yaitu tauhid. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan wejangan kepada Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu, yang kala itu hendak diutus berdakwah ke Yaman, juga agar mendidik penduduk Yaman dengan tauhid. Diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, dia berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Mu’adz bin Jabal kala dia hendak diutus ke Yaman:&lt;br /&gt;إِنَّكَ سَتَأْتِي قَوْمًا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ فَإِذَا جِئْتَهُمْ فَاْدعُهُمْ إِلَى أَنْ يَشْهَدُوا أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ&lt;br /&gt;“Sesungguhnya engkau akan tiba pada suatu kaum dari ahli kitab. Maka jika engkau datang kepada mereka, dakwahilah kepada persaksian bahwa tiada ilah yang berhak diibadahi kecuali Allah, dan bahwa Muhammad adalah rasulullah.” (HR. Al-Bukhari no. 4347)&lt;br /&gt;Tauhid menjadi awal dan dasar bagi pendidikan. Diungkapkan Ibnul Qayyim rahimahullahu, anak-anak yang telah mencapai kemampuan berbicara, ajarilah mereka (dengan menalqinkan) kalimat La ilaha illallah, Muhammad Rasulullah. Jadikanlah apa yang diperdengarkan kepada mereka adalah tentang pengenalan terhadap Allah Subhanahu wa Ta’ala (ma’rifatullah) dan mentauhidkan-Nya. Didik juga anak-anak bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala berada di atas ‘Arsy-Nya. Allah Maha Melihat terhadap mereka dan Maha Mendengar terhadap apa yang mereka perbincangkan. Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa bersama mereka, di mana saja mereka berada. (Tuhfatul Wadud bi Ahkamil Maulud, hal. 389)&lt;br /&gt;Segaris dengan hal di atas, Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullahu pun menekankan pula, bahkan mewajibkan, untuk setiap muslim membekali diri dengan ilmu yang terkait dengan pengenalan terhadap Allah Subhanahu wa Ta’ala. Disebutkan oleh Asy-Syaikh ‘Ubaid Al-Jabiri hafizhahullah, pengenalan terhadap Allah Subhanahu wa Ta’ala meliputi perkara keberadaan-Nya, rububiyah-Nya, uluhiyah-Nya, dan asma wa shifat-Nya. (Ithaful ‘Uqul bi Syarhi Ats-Tsalatsatil Ushul, hal. 8)&lt;br /&gt;Kenalkanlah Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada anak-anak semenjak dini. Kenalkan melalui metode yang bersifat praktis dan mudah dipahami anak-anak. Satu di antara metode itu adalah dengan tanya jawab (di atas). Sebagaimana Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepada seorang budak wanita. Hadits dari Mu’awiyah bin Hakam As-Sulami radhiyallahu ‘anhu, menceritakan metode dialog (tanya jawab) tersebut.&lt;br /&gt;قَالَ: أَيْنَ اللهُ؟ قَالَتْ: فِي السَّمَاءِ. قَالَ: مَنْ أَنَا؟ قَالَ: أَنْتَ رَسُولُ اللهِ. قَالَ: أَعْتِقْهَا فَإِنَّهَا مُؤْمِنَةٌ&lt;br /&gt;“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya: ‘Di mana Allah?’ Budak wanita itu menjawab: ‘Di (atas) langit.’ Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kembali: ‘Siapa saya?’ Budak wanita itu menjawab: ‘Engkau adalah Rasulullah.’ Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Bebaskan dia, karena sesungguhnya dia adalah wanita yang beriman’.” (Sunan Abi Dawud no. 930, dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu)&lt;br /&gt;Demikian metode dialog yang mengalir lancar, ringan, menyentuh tanpa beban. Dialog yang lugas, tegas, menikam tajam ke dalam pusat kesadaran. Menggugah keyakinan, menumbuhkan keimanan nan makin kokoh.&lt;br /&gt;Pengenalan terhadap Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagai Rabb bisa pula melalui metode pengenalan dengan ayat-ayat-Nya dan makhluk-makhluk-Nya. Disebutkan oleh Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullahu, bahwa apabila engkau ditanya, dengan apa engkau mengetahui Rabbmu. Maka jawablah: dengan ayat-ayat-Nya dan makhluk-makhluk-Nya. Dari adanya ayat-ayat-Nya yang berupa malam dan siang, matahari dan bulan, para makhluk Allah Subhanahu wa Ta’ala berada di langit yang tujuh dan di bumi yang berlapis tujuh, serta makhluk-makhluk Allah yang berada di antara keduanya. (Syarh Tsalatsatil Ushul, Asy-Syaikh Abdul ‘Aziz bin Baz, hal. 22)&lt;br /&gt;Kata Asy-Syaikh Muhammad Aman Al-Jami rahimahullahu saat memberi penjelasan terhadap perkataan Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullahu di atas, “Mengapa dalil, tanda-tanda dan ayat-ayat (dijadikan dasar) engkau mengetahui Rabbmu? Karena, sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala terhijab di dunia ini dan Dia (Allah Subhanahu wa Ta’ala) tidak bisa dilihat. Ini berdasarkan hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:&lt;br /&gt;فَإِنَّكُمْ لَنْ تَرَوْا رَبَّكُمْ حَتَّى تَمُوتُوا&lt;br /&gt;“Maka sungguh kalian tidak akan pernah bisa melihat Rabb kalian hingga kalian mati.” (Makna hadits ini terambil dari hadits yang diriwayatkan Al-Imam Muslim rahimahullahu dalam Shahih-nya no. 2931)&lt;br /&gt;Dengan begitu, iman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala termasuk iman terhadap yang gaib. Karena, sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah gaib dari penglihatan dan pandanganmu. Namun Dia ada bersamamu, tidak gaib darimu dengan ilmu-Nya, pendengaran-Nya, penglihatan-Nya, maka Dia bersamamu. Inilah ma’iyyah khashshah atau ma’iyyah ma’nawiyah (kebersamaan secara maknawi), bukan hissiyah (inderawi). Adapun secara hissi (inderawi), Dia gaib dari dirimu. Karenanya, keimanan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala termasuk iman pada hal yang gaib, yang membutuhkan tanda dan dalil yang menunjukkan atas wujudullah (keberadaan Allah Subhanahu wa Ta’ala). (Syarhu Tsalatsatil Ushul, Asy-Syaikh Al-’Allamah Muhammad Aman Al-Jami rahimahullahu, hal. 45)&lt;br /&gt;Hikmah dari mencermati dan mengamati segenap ciptaan Allah Subhanahu wa Ta’ala, selain bisa memicu rasa ingin tahu anak, juga bisa diarahkan untuk menumbuhkan keimanan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Membangun kesadaran bahwa di balik semua ciptaan ini, ada yang mengatur, menjaga, memelihara dan menghidupi, yaitu Allah k.&lt;br /&gt;Katakan pula kepada anak, bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala mencipta dan mengatur setiap orang berbeda-beda. Tunjukkan karunia dan nikmat yang telah dia rasakan. Ini sebagai upaya menumbuhsuburkan rasa syukur pada diri sang anak. Sikap syukur yang tertanam dalam diri anak diharapkan akan memupus sikap tamak, rakus. Memudahkan untuk menumbuhkan sikap mau berbagi, membantu dan menolong teman, dengan izin Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dengan sikap syukur ini pula diharap makin mendekatkan anak kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan memupuk jiwa tawadhu’ (rendah hati) dan tidak takabur.&lt;br /&gt;Perlihatkan pula kepada anak sederetan pedagang yang menjual barang dagangan yang sama. Masing-masing pedagang tidak saling berebut pembeli dan tidak saling mematikan pesaing antara pedagang yang satu dengan yang lain. Mereka bersaing secara sehat. Masing-masing mereka mendapatkan rizki sesuai kadar yang telah Allah Subhanahu wa Ta’ala tentukan untuk mereka. Subhanallah! Sebuah fenomena yang memperkaya batin anak, mengasah kepekaannya dan menumbuhkan keimanan dalam aspek tauhid rububiyah. Yaitu, tauhid yang menumbuhkan keyakinan bahwa sungguh Allah Subhanahu wa Ta’ala itu Maha Pencipta, Maha Pemberi rizki, yang menghidupkan, yang mematikan dan mengatur alam semesta ini. Dengan keyakinan semacam ini, anak tak perlu lagi risau, hasad, iri atau benci bila melihat temannya mendapatkan sesuatu. Dia berkeyakinan bahwa segala sesuatu itu telah ditentukan rizkinya oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Maka, pupuslah segala macam hasad, iri, benci di dalam hatinya. Kemudian terpancarlah dari diri anak akhlak nan mulia. Semua ini didasari tauhid yang lurus, bersih dari segala noda kesyirikan. Ibarat pohon, akarnya menghunjam kokoh ke dasar bumi, cabangnya menjulang menggapai angkasa raya, daunnya rimbun lebat meneduhkan suasana, dan buahnya bermunculan di setiap musim. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:&lt;br /&gt;أَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللهُ مَثَلاً كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ أَصْلُهَا ثَابِتٌ وَفَرْعُهَا فِي السَّمَاءِ. تُؤْتِي أُكُلَهَا كُلَّ حِينٍ بِإِذْنِ رَبِّهَا وَيَضْرِبُ اللهُ الْأَمْثَالَ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ&lt;br /&gt;“Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit, pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Rabbnya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat.” (Ibrahim: 24-25)&lt;br /&gt;Demikianlah pohon keimanan. Pokok akarnya kokoh di dalam hati seorang mukmin, secara ilmu dan i’tiqad (keyakinan). Cabangnya berupa ucapan yang baik, amal shalih, akhlak yang disukai, adab (kesantunan) yang baik (yang mengarah) pada langit, yang senantiasa menapak ketinggian kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dari pohon itu mencuat amal-amal dan perkataan-perkataan yang membawa manfaat bagi seorang mukmin dan yang lainnya. Itulah syajaratul iman (pohon keimanan). Ini dinyatakan oleh Asy-Syaikh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullahu dalam Taisir Al-Karimirrahman (hal. 451).&lt;br /&gt;Karenanya, pendidikan tauhid ini harus benar-benar mendapat perhatian. Nabi Ya’qub ‘alaihissalam saat menjelang ajal menjemput masih tetap memerhatikan masalah tauhid terhadap anak-anaknya. Ini dilukiskan dalam Al-Qur`an:&lt;br /&gt;أَمْ كُنْتُمْ شُهَدَاءَ إِذْ حَضَرَ يَعْقُوبَ الْمَوْتُ إِذْ قَالَ لِبَنِيهِ مَا تَعْبُدُونَ مِنْ بَعْدِي قَالُوا نَعْبُدُ إِلَهَكَ وَإِلَهَ ءَابَائِكَ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ إِلَهًا وَاحِدًا وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ&lt;br /&gt;“Adakah kamu hadir ketika Ya’qub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya: ‘Apa yang kamu sembah sepeninggalku?’ Mereka menjawab: ‘Kami akan menyembah Ilahmu dan Ilah nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail dan Ishaq, (yaitu) Ilah Yang Maha Esa dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya’.” (Al-Baqarah: 133)&lt;br /&gt;Pendidikan anak lainnya yang ditekankan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah membaguskan semangat anak untuk beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Anak dihasung untuk senantiasa melatih diri beribadah. Hingga pada masanya, anak tumbuh dewasa, dirinya telah memiliki kesadaran tinggi dalam menunaikan kewajiban ibadah. Di antara perintah yang mengharuskan anak dididik untuk menunaikan yang wajib, seperti hadits dari ‘Amr bin Syu’aib, dari ayahnya, dari kakeknya, dia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:&lt;br /&gt;مُرُوا أَوْلَادَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِيْنَ وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرِ سِنِيْنَ وَفَرِّقُوا بَيْنَهُمْ فِي الْمَضَاجِعِ&lt;br /&gt;“Suruhlah anak-anak kalian menunaikan shalat kala mereka berusia tujuh tahun, dan pukullah mereka (bila meninggalkan shalat) kala usia mereka sepuluh tahun, dan pisahkanlah tempat tidur mereka.” (Sunan Abi Dawud no. 495. Asy-Syaikh Al-Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullahu menyatakan hadits ini hasan shahih.)&lt;br /&gt;Yang dimaksud menyuruh anak-anak, meliputi anak laki-laki dan perempuan. Mereka hendaknya dididik bisa menegakkan shalat dengan memahami syarat-syarat dan rukun-rukunnya. Jika hingga usia sepuluh tahun tak juga mau menegakkan shalat, maka pukullah dengan pukulan yang tidak keras dan tidak meninggalkan bekas, serta tidak diperkenankan memukul wajah. (Lihat ‘Aunul Ma’bud Syarh Sunan Abi Dawud, 2/114)&lt;br /&gt;Untuk mengarahkan anak tekun dalam beribadah memerlukan pola yang mendukung ke arah hal tersebut. Seperti, diperlukan keteladanan dari orangtua dan orang-orang di sekitar anak. Perilaku orangtua yang ‘berbicara’ itu lebih ampuh dari lisan yang berbicara. Anak akan melakukan proses imitasi (meniru) dari apa yang diperbuat orangtuanya. Syariat pun sangat tidak membuka peluang terhadap orang yang hanya bisa berbicara (menyuruh) namun dirinya tidak melakukan apa yang dikatakannya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:&lt;br /&gt;يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لاَ تَفْعَلُونَ. كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللهِ أَنْ تَقُولُوا مَا لاَ تَفْعَلُونَ&lt;br /&gt;“Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan.” (Ash-Shaff: 2-3)&lt;br /&gt;Dengan demikian, keteladanan sangat mengedepankan aspek perilaku dalam bentuk tindakan nyata. Bukan sekadar berbicara tanpa aksi.&lt;br /&gt;Pendukung lainnya yang diperlukan agar anak tekun beribadah adalah mengondisikan lingkungan atau suasana ke arah hal itu. Manakala tiba waktu shalat, maka seluruh anggota keluarga menyiapkan diri untuk shalat. Tak ada satu orang pun yang masih santai dan tidak menghiraukan seruan untuk shalat. Kalau ada anggota keluarga yang tidak bisa memenuhi segera seruan tersebut atau berhalangan, maka hal itu harus dijelaskan kepada anak. Sehingga anak memahami sebagai hal yang dimaklumi secara syar’i.&lt;br /&gt;Pendukung lainnya, seperti pemberian hadiah manakala mau beribadah secara tekun, memberikan sanksi atau hukuman yang mendidik dan menimbulkan efek jera bagi anak yang malas beribadah, menghilangkan hal-hal yang jadi penyebab anak malas ibadah, dan lain-lain.&lt;br /&gt;Pendidikan penting lainnya bagi anak yaitu membentuk kepribadian anak yang beradab. Tahu etika, sopan santun. Menurut Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin rahimahullahu, al-adab yaitu akhlak yang menjadikan manusia santun (beretika) karenanya. Seperti, kemuliaan, keberanian, bagus kepribadian, lapang dada, raut wajah yang berseri-seri, dan lain-lain. Jadi, al-adab adalah sebuah ungkapan tentang akhlak yang (bila) seseorang menghiasi dirinya dengan akhlak tersebut akan menjadi terpuji karenanya. (Syarhu Riyadhish Shalihin, 2/979)&lt;br /&gt;Saat seseorang berbicara tentang adab, maka sesungguhnya dia berbicara masalah akhlak. Adab dan akhlak, satu hal yang tidak ada perbedaan padanya. Akhlak terhadap Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Mentauhidkan-Nya dalam rububiyah, uluhiyah, dan asma wa shifat. Seseorang yang berbuat syirik, senyatanya dia berbuat zalim yang besar. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:&lt;br /&gt;إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ&lt;br /&gt;“Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.” (Luqman: 13)&lt;br /&gt;Akhlak seorang muslim terhadap Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah tidak lancang terhadap beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:&lt;br /&gt;يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لاَ تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيِ اللهِ وَرَسُولِهِ وَاتَّقُوا اللهَ إِنَّ اللهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ. يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لاَ تَرْفَعُوا أَصْوَاتَكُمْ فَوْقَ صَوْتِ النَّبِيِّ وَلاَ تَجْهَرُوا لَهُ بِالْقَوْلِ كَجَهْرِ بَعْضِكُمْ لِبَعْضٍ أَنْ تَحْبَطَ أَعْمَالُكُمْ وَأَنْتُمْ لاَ تَشْعُرُونَ&lt;br /&gt;“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu lebih dari suara Nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara keras sebagaimana kerasnya (suara) sebagian kamu terhadap sebagian yang lain, supaya tidak hapus (pahala) amalanmu sedangkan kamu tidak menyadari.” (Al-Hujurat: 1-2)&lt;br /&gt;Diungkapkan oleh Asy-Syaikh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullahu bahwa ayat ini meliputi kandungan adab terhadap Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mengagungkan, menghormati, dan memuliakannya. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memerintahkan kepada hamba-hamba-Nya yang beriman dengan perkara keimanan terhadap Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Yaitu, menunaikan perintah-perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala dan menjauhi larangan-larangan-Nya. (Sehingga) menjadikannya berjalan di belakang perintah-perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala dan mengikuti Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam seluruh urusan mereka. Sikap mereka tidak mendahului Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka tidak berkata sampai beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata. Mereka tidak menyuruh sampai Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan. Maka, sungguh inilah hakikat adab yang wajib terhadap Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang merupakan bentuk kebahagiaan seorang hamba dan keberuntungannya. (Sedangkan apabila) bersikap melancanginya, dirimu akan meninggalkan kebahagiaan yang abadi dan kenikmatan yang langgeng. Dalam ayat ini pun terkandung larangan yang keras mendahulukan perkataan (pendapat) selain Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas perkataan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka, sesungguhnya tatkala telah terang Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, wajib untuk mengikuti dan mendahulukannya atas selainnya. (Taisir Al-Karimirrahman, hal. 889)&lt;br /&gt;Selain mendidik adab terhadap Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam, anak mesti pula dididik untuk memiliki adab terhadap sesama manusia. Dalam hal ini yang utama sekali mendidik akhlak anak terhadap orangtuanya. Mendidik agar anak berbuat baik kepada kedua orangtuanya, tak semata dengan memberikan asupan ilmu. Lebih dari itu, hendaknya seorang anak diberi ruang yang bebas untuk membangun ikatan emosional dengan kedua orangtuanya, sekaligus sebagai media mempraktikkan ilmu yang didapatnya. Melalui interaksi dan komunikasi yang sehat, diharapkan ikatan itu terbentuk sehingga anak memiliki rasa kepedulian terhadap orangtuanya. Bisa saja seorang anak memiliki ilmu yang cukup dan paham tentang bagaimana harus birrul walidain (berbuat baik) kepada kedua orangtuanya. Namun manakala ikatan emosional ini tidak dibangun dan dibentuk sejak dini, jalinan kedekatan dengan orangtua pun bisa mengalami hambatan. Anak akan merasa kesulitan mengamalkan ilmu dan pemahamannya. Kepekaannya menjadi tidak tajam. Kepeduliannya pun tumpul. Padahal Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:&lt;br /&gt;وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَى وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ&lt;br /&gt;“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.” (Luqman: 14)&lt;br /&gt;Orangtua atau pendidik yang baik, akan senantiasa memerhatikan masalah interaksi dan komunikasi antara orangtua dan anaknya. Mendidik bukan semata mentransfer ilmu kepada anak. Lebih dari itu, bagaimana anak tersebut mengamalkan ilmunya secara benar dan berkesinambungan. Kerja sama dan komunikasi yang baik antara orangtua, anak, dan pendidik, di suatu lembaga pendidikan mutlak diperlukan. Karena anaknya sudah di pesantren, lantas orangtua tidak mau peduli kepada anaknya. Tak pernah berkomunikasi dan berinteraksi dengan sang anak. Ini adalah sikap tidak tepat. Begitu pula lembaga pendidikan di mana sang anak menimba ilmu, bisa menjadi jembatan komunikasi antara orangtua dan anak. Ini semua sebagai upaya menyongsong pendidikan anak yang lebih baik. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:&lt;br /&gt;وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى&lt;br /&gt;“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa.” (Al-Ma`idah: 2)&lt;br /&gt;Hikmah yang bisa dipetik dari perintah mendidik anak untuk shalat sejak usia tujuh tahun yaitu adanya penanaman ilmu tentang shalat itu sendiri, adanya proses pelatihan dan pengondisian yang terus-menerus sehingga ritual shalat menjadi proses ibadah yang melekat kokoh pada anak. Begitu pula aspek pengamalan dalam masalah birrul walidain, selain penanaman ilmu, perlu proses melatih, mengondisikan, mendekatkan, dan mengikatkan suasana emosional anak dengan orangtuanya. Kepedulian, perhatian dan kasih sayang orangtua kepada anak merupakan nutrisi bagi ‘kesehatan’ jiwa anak. Sehingga diharapkan anak mengalami tumbuh kembang jiwa ke arah yang lebih baik. Lebih stabil secara emosional. Matang dalam bersikap dan dewasa dalam menghadapi masalah. Tidak reaksioner, meletup-letup dan kekanak-kanakan sehingga memperkeruh masalah yang ada. Nas`alullah as-salamah wal ‘afiyah.&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; padding-top: 10px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; "&gt;Wallahu a’lam.&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1610239576162246720-5604945250345743097?l=fajarilahi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fajarilahi.blogspot.com/feeds/5604945250345743097/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://fajarilahi.blogspot.com/2010/03/mendidik-dengan-keteladanan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1610239576162246720/posts/default/5604945250345743097'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1610239576162246720/posts/default/5604945250345743097'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fajarilahi.blogspot.com/2010/03/mendidik-dengan-keteladanan.html' title='Mendidik dengan Keteladanan'/><author><name>@dmin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05096539022832868916</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1610239576162246720.post-7486205422194828317</id><published>2010-03-01T15:25:00.000-08:00</published><updated>2010-03-01T15:35:06.145-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Motivasi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel'/><title type='text'>Menolong atau Menjerumuskan ?</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_T379pRK2vJ4/S4xN2qXQlKI/AAAAAAAAAFE/pV6Tt-gyNRU/s1600-h/kepompong.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 91px; height: 116px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_T379pRK2vJ4/S4xN2qXQlKI/AAAAAAAAAFE/pV6Tt-gyNRU/s400/kepompong.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5443811651064206498" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style=" ;font-size:13px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:georgia;"&gt;Kisah ini bermula ketika seorang pria menemukan sebuah kepompong kupu-kupu.&lt;br /&gt;Ia melihat diujung lubang kecil kepompong, tampak seekor ulat sedang berusaha keluar dari kepompong. Nampaknya ini adalah saatnya sang ulat terbang sebagai kupu-kupu.&lt;br /&gt;Tertarik dengan pemandangan yang jarang disaksikannya, ia duduk mengamati cukup lama. Setelah lama menunggu ternyata ulat tersebut kesulitan membongkar selubung kepompong. Ulat itu terlihat berjuang begitu keras tapi haya sedikit rongga yang terbuka.&lt;br /&gt;Akhirnya pria itu memutuskan untuk sedikit memberi bantuan. Ia mengambil gunting dan memotong beberapa sisi kepompong sehingga ulatnya mudah keluar.&lt;br /&gt;Dengan bantuan kecil tersebut akhirnya sang ulat dengan leluasa keluar dari kepompong.&lt;br /&gt;Akan tetapi, ulat bersayap ini atau kini sudah menjadi kupu-kupu, tak kunjung terbang. Sayapnya lunglai seperti tak bertenaga. Ulat ini hanya berjalan dan berusaha mengepakkan sayapnya, tapi ia tak sanggup terbang. Ulat ini akhirnya mati, sebagai kupu-kupu yang tak pernah terbang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang terjadi?&lt;br /&gt;Pemuda ini merasa dirinya menolong ulat dengan memberi celah lebih lebar pada kepompong akan tetapi justru yang dilakukannya merupakan penyiksaan terhadap sang calon kupu-kupu.&lt;br /&gt;Pemuda itu tidak tahu bahwa justru proses sulit keluar itulah yang akan membuat sang ulat bisa terbang sebagai kupu-kupu.&lt;br /&gt;Proses menembus kepompong alamiah akan membuat aktifnya cairan dan fungsi organ tertentu pada ulat untuk bisa terbang sebagai kupu-kupu.&lt;br /&gt;Jika proses itu diintervensi maka akhirnya ulat itu justru tidak bisa terbang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana dengan kehidupan?&lt;br /&gt;Kadang seringkali kita merasa menolong orang lain padahal justru menjerumuskannya pada keburukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang tua yang panik melihat anaknya belum mengerjakan PR menjelang berangkat sekolah memutuskan untuk membantu mengerjakan PR anaknya. Ia membuat jawabannya dan anaknya menyalin.&lt;br /&gt;Orang tua itu berpikir sedang menyelamatkan anaknya dari hukuman di kelas.&lt;br /&gt;Padahal ia baru saja menjerumuskan anaknya untuk menjadi anak malas yang tidak bertanggung jawab.&lt;br /&gt;Kalau saya biasanya memilih untuk membiarkkan anak yang lupa PR untuk menyelesaikan sendiri, kalau akhirnya tidak selesai, saya biarkan mereka berhadapan dengan guru dan kalau dihukum dikelas, biarkan saja.&lt;br /&gt;Karena proses itu akan mendewasakan dan membuat mereka punya tanggung jawab.&lt;br /&gt;Membantu PR anak jelas bagus tapi bukan dengan memberikan jawaban, tapi membiarkan mereka menemukan jawaban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita melihat seorang teman terlibat narkoba. Kita nasehati ia melawan. Kalau dilaporkan dia diihukum sekolah. Karena takut dia dihukum maka kita tidak laporkan dan kita biarkan. Mungkin sekilas seperti setia kawan, padahal kita juga sedang berperan menyaksikannya bunuh diri pelan-pelan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang saatnya kita lebih bijak dalam bertindak.&lt;br /&gt;Ketika menolong pastikan kita sedang menolong, bukan sebaliknya.&lt;br /&gt;Apakah Anda punya contoh lain?&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style=" ;font-size:13px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:georgia;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style=" ;font-size:13px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:georgia;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1610239576162246720-7486205422194828317?l=fajarilahi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fajarilahi.blogspot.com/feeds/7486205422194828317/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://fajarilahi.blogspot.com/2010/03/menolong-atau-menjerumuskan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1610239576162246720/posts/default/7486205422194828317'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1610239576162246720/posts/default/7486205422194828317'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fajarilahi.blogspot.com/2010/03/menolong-atau-menjerumuskan.html' title='Menolong atau Menjerumuskan ?'/><author><name>@dmin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05096539022832868916</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_T379pRK2vJ4/S4xN2qXQlKI/AAAAAAAAAFE/pV6Tt-gyNRU/s72-c/kepompong.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1610239576162246720.post-8998149281742169257</id><published>2010-02-27T06:31:00.000-08:00</published><updated>2010-02-27T06:38:27.639-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tahnik bayi'/><title type='text'>HIKMAH SECARA MEDIS TENTANG MENTAHNIK BAYI YANG BARU LAHIR DENGAN KURMA</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_T379pRK2vJ4/S4kuVZr3jMI/AAAAAAAAAEI/4zNgMcOZmYY/s1600-h/kurma.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 174px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_T379pRK2vJ4/S4kuVZr3jMI/AAAAAAAAAEI/4zNgMcOZmYY/s320/kurma.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5442932569860967618" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span"   style="  line-height: 20px; font-family:Verdana, Geneva, sans-serif;font-size:12px;"&gt;&lt;p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 15px; padding-left: 0px; "&gt;&lt;strong&gt;Dr.Faruq Musahil&lt;/strong&gt; menyebutkan bahwa Tahnik merupakan sebuah mukjizat medis dari Nabi S.A.W. dan dibelakangnya hanya ada satu hadist saja. Setelah lahir, seorang bayi mendapatkan dirinya sudah terpisah dari ibunya, dan pasokan makanan instan dari ibupun sudah berhenti. Sehingga untuk bisa bertahan, ia harus mengandalkan pada sisa makanan yang masih tersimpan dalam tubuhnya. &lt;span id="more-774"&gt;&lt;/span&gt;Dan jumlahnya tidak banyak, saat ia masih dalam rahim ibunya, hingga saat keluar susu dari payudara ibunya, keluarnya susu itu sendiri membutuhkan waktu yang tidak sama antara satu dengan wanita yang lain, dari satu hingga tiga hari.&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 15px; padding-left: 0px; "&gt;Sementara aktivitas tubuh sang bayi berada pada pucaknya, saat ia berupaya beradaptasi dengan lingkungan barunya, yakni keluar kedunia ini sehingga sisa bahan makanan di tubuhnya akan demikian cepat habis. Bersamaan itu, prosentase gula dalam darah juga ikut menurun sehingga masa sulit mensuplai makanan untuk bayi berkisar antara selepas waktu bersalin hingga awal penyusuan. Kita bisa melihat, betapa Nabi S.A.W. amat memuliakan anak kecil ditangannya, dengan memberikan tahnik kurma kering kepadanya ( buah yang sarat dengan gula ), yang dapat dihisap dengan cepat oleh pembulu darah, sehingga dapat menjaga kadar gula dalam darah, atau meningkatkan kadar itu menjadi normal.&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 15px; padding-left: 0px; "&gt;Susu ibu sendiri mengandung kadar gula yang lebih tinggi dibandingkan yang terdapat dalam susu makluk Allah selain manusia kadar gula dalam susu ibu sekitar 2,7%. Dengan demikian, terbuktilah urgensi zat gula bagi bayi yang baru lahir, hingga waktu kehadiran hingga waktu disusui oleh ibunya.&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 15px; padding-left: 0px; "&gt;Disarikan dari buku Khasiat Kurma ‘ Ajwah ‘&lt;br /&gt;Makanan sehat dan obat nabawi&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1610239576162246720-8998149281742169257?l=fajarilahi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fajarilahi.blogspot.com/feeds/8998149281742169257/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://fajarilahi.blogspot.com/2010/02/hikmah-secara-medis-tentang-mentahnik.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1610239576162246720/posts/default/8998149281742169257'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1610239576162246720/posts/default/8998149281742169257'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fajarilahi.blogspot.com/2010/02/hikmah-secara-medis-tentang-mentahnik.html' title='HIKMAH SECARA MEDIS TENTANG MENTAHNIK BAYI YANG BARU LAHIR DENGAN KURMA'/><author><name>@dmin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05096539022832868916</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_T379pRK2vJ4/S4kuVZr3jMI/AAAAAAAAAEI/4zNgMcOZmYY/s72-c/kurma.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1610239576162246720.post-6348635213293456736</id><published>2010-02-24T15:45:00.000-08:00</published><updated>2010-03-01T15:48:51.659-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pendidikan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ilmu'/><title type='text'>Pendidikan Anak dalam Pergulatan ~2~</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_T379pRK2vJ4/S4W6ismKCpI/AAAAAAAAAEA/NAuVvlVLMMc/s1600-h/ilmu.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 124px; height: 93px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_T379pRK2vJ4/S4W6ismKCpI/AAAAAAAAAEA/NAuVvlVLMMc/s320/ilmu.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5441960829996632722" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style=" ;font-size:13px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:georgia;"&gt;Dengan demikian ayat tersebut memuat dalil bahwa sesungguhnya para pengikut Rasulullah  صلى الله عليه وسلم adalah du’at (para juru dakwah) ke (jalan) الله سبحنه وتعلى (Al-Hujajul Qawiyyah, Asy-Syaikh Abdussalam bin Barjas rahimahullahu, hal. 7)&lt;br /&gt;Di tengah derasnya arus materialisme yang menyeret banyak manusia ke dalam kubangan syahwat, nafsu sesaat, berlomba mengeruk materi, memang akan sangat terasa aneh sekali bila ada orang pada dewasa ini berkeinginan menjadi dai. Sebagian orangtua masih dihantui perasaan cemas bila anaknya terjun dalam dakwah. Karenanya, sebagian orangtua cenderung memilih tempat pendidikan bagi anaknya ke tempat pendidikan yang bisa ‘menjanjikan’ masa depan anaknya. Sadar atau tidak, sebenarnya pilihan ini agak berbau paham materialisme. Ada semacam kekhawatiran yang tersembunyi, bila sang anak tidak memiliki ijazah, gelar, atau keahlian, masa depannya menjadi suram. Walau untuk hal ini, waktu anak untuk mempelajari, memahami dan menyerap ilmu syar’i menjadi banyak terkurangi. Usianya habis untuk berkutat menjelajahi fatamorgana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah, pergulatan guna menapaki masa depan akan terus berkecamuk.&lt;br /&gt;Hendaknya setiap diri muslim menjadi orang yang menyeru kepada jalan الله سبحنه وتعلى Namun yang demikian ini tak akan bisa tercapai manakala seorang muslim tidak dibekali dengan ilmu. Sebab, seseorang yang belum memiliki bekal ilmu, maka apa yang dia dakwahkan adalah sesuatu yang muncul dari pemikiran dan hawa nafsunya. Dikira sebagai suatu kebenaran, ternyata sesuatu yang batil dan sesat. Adalah sebuah kemestian mendahulukan ilmu sebelum seseorang berdakwah. Karenanya, menempatkan anak-anak di lembaga pendidikan yang memfokuskan pada kajian keagamaan sesuai pemahaman salafush shalih adalah jalan terbaik yang harus ditempuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah  صلى الله عليه وسلم banyak menghasung untuk menyebarkan al-haq. Seseorang yang berusaha mengajak orang lain, sehingga melalui dirinya orang tersebut mendapat hidayah, maka dia mendapat keutamaan yang besar. Hadits dari Sahl bin Sa’d As-Sa’idi رضي الله عنه yang menyingkap pembicaraan Rasulullah  صلى الله عليه وسلم kepada Ali bin Abi Thalib رضي الله عنه saat Hari Khaibar, menunjukkan keutamaan tersebut. Sabda Rasulullah  صلى الله عليه وسلم&lt;br /&gt;فَوَاللهِ لَأَنْ يَهْدِيَ اللهُ بِكَ رَجُلًا وَاحِدًا خَيْرٌ لَكَ مِنْ حُمْرِ النَّعَمِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Demi Allah, Allah memberikan hidayah pada satu orang lantaran engkau, (itu) lebih baik bagimu daripada (mendapat) unta merah.” (HR. Al-Bukhari no. 3009)&lt;br /&gt;Dari Abu Mas’ud Al-Badri, ‘Uqbah bin ‘Amir Al-Anshari رضي الله عنه dia berkata: Rasulullah  صلى الله عليه وسلم bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;مَنْ دَلَّ عَلىَ خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka baginya pahala seperti pahala orang yang melakukannya.” (HR. Muslim no. 1893)&lt;br /&gt;الله سبحنه وتعلى berfirman:&lt;br /&gt;وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.” (Ali ‘Imran: 104)&lt;br /&gt;Namun untuk mewujudkan ke arah apa yang dicitakan, banyak rintangan yang menghadang. Pendidikan anak-anak yang diidamkan tak sedikit menghadapi tantangan. Di antara yang menghambat bahkan menggagalkan misi pendidikan anak yang selaras dengan fitrahnya, seperti yang disebutkan Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan hafizhahullah, yaitu adanya (sistem) pendidikan yang menyimpang dan lingkungan yang menyeleweng. الله سبحنه وتعلى berfirman dalam sebuah hadits qudsi:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;خَلَقْتُ عِبَادِي حُنَفَاءَ فَاجْتَالَتْهُمُ الشَّيَاطِينُ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku telah menciptakan hamba-hamba-Ku dalam keadaan hanif (sesuai fitrah, bertauhid), kemudian para setan menggelincirkan (memalingkan) mereka.” (HR. Ahmad no. 17947 dan Muslim no. 7386, dari shahabat ‘Iyadh bin Himar radhiyallahu ‘anhu)&lt;br /&gt;Pengertiannya, bahwa para setan memalingkan hamba-hamba Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada bentuk peribadahan kepada berhala. Lantas berhala-berhala tersebut mereka jadikan sesembahan selain Allah Subhanahu wa Ta’ala. Maka mereka pun terjatuh dalam kesesatan dan kesia-siaan. Setelah mereka meninggalkan Rabb yang haq, malapetakan pun jatuh menimpa mereka dengan menjadikan sesembahan (rabb-rabb) yang batil. الله سبحنه وتعلى berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;فَذَلِكُمُ اللهُ رَبُّكُمُ الْحَقُّ فَمَاذَا بَعْدَ الْحَقِّ إِلَّا الضَّلَالُ فَأَنَّى تُصْرَفُونَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maka (Zat yang demikian) itulah Allah Rabb kamu yang sebenarnya; maka tidak ada sesudah kebenaran itu, melainkan kesesatan.” (Yunus: 32) [‘Aqidatut Tauhid, hal. 28]&lt;br /&gt;Setan dan bala tentaranya, dari jenis jin dan manusia, senantiasa berupaya menyimpangkan fitrah anak. Melalui berbagai media, setan dan bala tentaranya, terus menebar berbagai bentuk kesesatan dan opini yang menyesatkan. Pernyataan-pernyataan indah nan memukau selalu dilansir guna menipu manusia. Pendidikan anak menjadi melenceng. Anak dijejali dengan pendidikan yang mengarah pada kesibukan duniawiyah. Ditiupkan ketakutan dan kekhawatiran terhadap masa depan anak bila anak tak meniti pendidikan sebagaimana kebanyakan manusia. Sebaliknya, beragam citra buruk dilekatkan, bila anak menghabiskan waktunya guna mereguk ilmu syar’i sebagai bekal bagi masa depannya. Setan selalu menebar tipuan. الله سبحنه وتعلى berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;شَيَاطِينَ الْإِنْسِ وَالْجِنِّ يُوحِي بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ زُخْرُفَ الْقَوْلِ غُرُورًا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“(Yaitu) setan-setan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia).” (Al-An’am: 112)&lt;br /&gt;Hambatan lain yang bisa memalingkan anak dari fitrahnya adalah sistem pendidikan. Sebagaimana dimafhumi, sistem pendidikan sekarang lebih menekankan kepada faktor selain ilmu syar’i. Pendidikan agama hanya suplemen, bagian dari sistem pendidikan itu sendiri. Maka, terjadilah apa yang terjadi. Mata pelajaran agama sangat minim sekali diberikan kepada anak-anak di sekolah formal di Indonesia. Itupun pendidikan agama dengan beragam ‘corak’ pemahaman. Maka, melalui sistem pendidikan yang cenderung sekularistik ini bisa menjadi penyebab lunturnya fitrah anak. Akibatnya, benteng pertahanan moral anak dalam menghadapi gempuran arus kekufuran di sekitarnya menjadi sangat rapuh sekali. Lahirlah manusia-manusia model Qarun yang menganggap dirinyalah yang menjadikan sukses dalam kehidupan dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;قَالَ إِنَّمَا أُوتِيتُهُ عَلَى عِلْمٍ عِنْدِي&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Qarun berkata: ‘Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu, karena ilmu yang ada padaku’.” (Al-Qashash: 78)&lt;br /&gt;Atau sebagaimana yang diucapkan manusia lainnya seperti digambarkan dalam firman الله سبحنه وتعلى&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;فَإِذَا مَسَّ الْإِنْسَانَ ضُرٌّ دَعَانَا ثُمَّ إِذَا خَوَّلْنَاهُ نِعْمَةً مِنَّا قَالَ إِنَّمَا أُوتِيتُهُ عَلَى عِلْمٍ بَلْ هِيَ فِتْنَةٌ وَلَكِنَّ أَكْثَرَهُمْ لَا يَعْلَمُونَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maka apabila manusia ditimpa bahaya ia menyeru Kami, kemudian apabila Kami berikan kepadanya nikmat dari Kami ia berkata: ‘Sesungguhnya aku diberi nikmat itu hanyalah karena kepintaranku’. Sebenarnya itu adalah ujian, tetapi kebanyakan mereka itu tidak mengetahui.” (Az-Zumar: 49)&lt;br /&gt;Maka, hendak kemanakah pendidikan anak kita diarahkan? Mari telaah bagaimana para salafush shalih mendidik anak-anak mereka. Temukan mutiara pendidikan pada mereka. Ke sanalah kita mesti merujuk.&lt;br /&gt;والله أعـلــم&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style=" ;font-size:13px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:georgia;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style=" ;font-size:13px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:georgia;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1610239576162246720-6348635213293456736?l=fajarilahi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fajarilahi.blogspot.com/feeds/6348635213293456736/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://fajarilahi.blogspot.com/2010/02/pendidikan-anak-dalam-pergulatan-2.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1610239576162246720/posts/default/6348635213293456736'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1610239576162246720/posts/default/6348635213293456736'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fajarilahi.blogspot.com/2010/02/pendidikan-anak-dalam-pergulatan-2.html' title='Pendidikan Anak dalam Pergulatan ~2~'/><author><name>@dmin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05096539022832868916</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_T379pRK2vJ4/S4W6ismKCpI/AAAAAAAAAEA/NAuVvlVLMMc/s72-c/ilmu.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1610239576162246720.post-1487802167794814092</id><published>2010-02-24T15:35:00.000-08:00</published><updated>2010-02-24T15:44:13.324-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pendidikan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ilmu'/><title type='text'>Pendidikan Anak dalam Pergulatan ~1~</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_T379pRK2vJ4/S4W5vW2Vl8I/AAAAAAAAAD4/ZozvIKvEObI/s1600-h/ilmu.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 150px; height: 120px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_T379pRK2vJ4/S4W5vW2Vl8I/AAAAAAAAAD4/ZozvIKvEObI/s320/ilmu.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5441959947985590210" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style=" ;font-size:13px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:x-small;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:georgia;"&gt;Oleh: Al-Ustadz Abulfaruq Ayip Syafruddin&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:georgia;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullahu dalam Tsalatsatul Ushul-nya, yang disebut ilmu adalah ma’rifatullah (mengenal Allah), ma’rifatu nabiyyihi (mengenal Nabi-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam) dan ma’rifatu dienil Islam bil adillah (mengenal agama Islam berdasarkan dalil-dalil). Inilah yang disebut sebagai ilmu. Sedangkan Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin rahimahullahu menyatakan bahwa yang disebut ilmu adalah ilmu syar’i. Yaitu, ilmu (yang meliputi) apa saja yang telah Allah Subhanahu wa Ta’ala turunkan kepada Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam bentuk penjelasan-penjelasan (al-bayyinat) dan petunjuk (al-huda). Maka, ilmu yang terpuji adalah ilmu wahyu. Hanya ilmu yang diturunkan Allah Subhanahu wa Ta’ala saja. (Kitabul ‘Ilmi, hal. 9)&lt;br /&gt;Lebih tegas Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullahu memaparkan, bahwa telah dimaklumi para nabi telah mewariskan ilmu الله عز وجل Bukan ‘ilmu’ lainnya. Para nabi tidaklah mewariskan kepada manusia ilmu teknologi industri atau segala yang terkait dengannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah menjadi kewajiban kaum muslimin untuk mempelajari dan memahami ilmu syar’i tersebut. Karena, tidak akan mungkin seorang muslim mengamalkan agamanya tanpa disertai mempelajari dan memahami ilmu syar’i dengan baik dan benar. Berbeda dengan ‘ilmu’ teknologi industri, tidak semua kaum muslimin wajib untuk mempelajarinya. Ilmu syar’i yang telah الله سبحنه وتعلى turunkan melalui Rasul-Nya صلى الله عليه وسلم merupakan ilmu yang menyangkut keselamatan hidup seseorang di dunia maupun di akhirat kelak. Maka, bila seorang muslim menghendaki kebaikan, hendaknya dia berupaya mempelajari dan memahami secara baik dan benar ilmu yang telah الله سبحنه وتعلى turunkan melalui Rasul-Nya صلى الله عليه وسلم&lt;br /&gt;Satu tanda bahwa seseorang mendapat kebaikan, yaitu الله سبحنه وتعلى memberikan kefaqihan dalam agama. Rasulullah  صلى الله عليه وسلم telah menyatakan hal ini sebagaimana dalam hadits Mu’awiyah رضي الله&lt;br /&gt;عنه&lt;br /&gt;مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّيْنِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Barangsiapa yang Allah kehendaki padanya kebaikan, Allah faqihkan dia dalam agama.” (HR. Al-Bukhari no. 71, 3116, 7312)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh beruntung sekali seseorang yang bisa mendapat hal tersebut. Dirinya bisa mempelajari, memahami dan mengamalkan agamanya. Sungguh, ilmu syar’i inilah yang menjadi warisan dari para nabi Allah. jika seseorang mampu meraupnya, sungguh dia telah mendapat keberuntungan yang melimpah ruah. Sebagaimana hadits dari Abud Darda` رضي الله عنه bahwa Rasulullah  صلى الله عليه وسلم bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَإِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ، وَإِنَّ الْأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِيْنَارًا وَلَا دِرْهَمًا، وَرَّثُوا الْعِلْمَ، فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan sesungguhnya ulama itu pewaris nabi. Dan sesungguhnya para nabi itu tidaklah mewariskan dinar dan tidak pula dirham. Para nabi mewariskan ilmu. Barangsiapa yang mengambilnya, dia telah mengambil (mendapatkan) keberuntungan yang banyak.” (Sunan Abi Dawud, no. 3641, Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu menshahihkannya)&lt;br /&gt;Maka, sudah selaiknya bila Allah Subhanahu wa Ta’ala mengangkat dan meninggikan derajat ahlul ilmi di dunia dan akhirat. الله سبحنه وتعلى berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;يَرْفَعِ اللهُ الَّذِينَ ءَامَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” (Al-Mujadilah: 11)&lt;br /&gt;Sebagaimana diungkapkan oleh Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin rahimahullahu, sesungguhnya الله سبحنه وتعلى akan mengangkat ahlul ilmi di akhirat dan di dunia. Di akhirat, sungguh الله سبحنه وتعلى akan mengangkat, meninggikan kedudukan mereka beberapa derajat terkait segenap apa yang telah mereka upayakan dalam menegakkan dakwah ke (jalan) الله سبحنه وتعلى serta mengamalkan apa yang mereka telah amalkan. Sedangkan di dunia, الله سبحنه وتعلى akan meninggikan mereka di antara hamba-hamba-Nya terkait apa yang telah mereka tegakkan dengannya. (Kitabul ‘Ilmi, hal. 16-17)&lt;br /&gt;Berpijak guna menjadi ahlul ilmi itulah anak-anak mendapat pendidikan. Mereka adalah generasi yang dilahirkan untuk masa depan, menyongsong dakwah, dan menegakkan Islam. Menjadi generasi yang memiliki bekal keilmuan dan peduli terhadap keadaan umat. Bukan generasi yang dididik untuk disiapkan menjadi mesin-mesin ekonomi. Dihisap waktu, tenaga dan pikirannya oleh para kapitalis. Bukan. Bukan ke arah itu mendidik anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karenanya, arahkan, bimbing dan tuntun anak-anak agar merasa nyaman dengan Al-Qur`an. Relakan dia menghafal, mempelajari dan mengamalkan apa yang dikandung dalam Kitab nan suci itu. Sungguh amat bersyukur bagi orangtua yang mampu (dengan pertolongan الله سبحنه وتعلى) mengantarkan anak-anaknya senantiasa mempelajari, menghafalkan dan berupaya mengamalkan Al-Qur`an. Dari Buraidah رضي الله عنه dia berkata: Rasulullah  صلى الله عليه وسلم bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;مَنْ قَرَأَ الْقُرْآنَ وَتَعَلَّمَهُ وَعَمِلَ بِهِ أُلْبِسَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ تَاجًا مِنْ نُورٍ ضَوْؤُهُ مِثْلُ ضَوْءِ الشَّمْسِ وَيُكْسَى وَالِدَيْهِ حُلَّتَانِ لاَ تُقَوَّمُ بِهِمَا الدُّنْيَا فَيَقُولَانِ: بِمَا كُسِيْنَا هَذَا؟ فَيُقَالُ: بِأَخْذِ وَلَدِكُمَا الْقُرْآنَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Barangsiapa yang membaca Al-Qur`an, mempelajarinya dan mengamalkannya kelak pada hari kiamat dikenakan mahkota dari cahaya yang sinar kemilaunya seperti cahaya matahari. Dan (bagi) kedua orangtuanya masing-masing dikenakan pula dua pakaian yang tak bisa dinilai dengan dunia. Maka kedua orangtuany\a bertanya: ‘Lantaran apa kami dipakaikan (yang seperti) ini?’ Maka dijawab: ‘Karena anak kalian berdua belajar Al-Qur`an’.” (Mustadrak Al-Hakim, 1/568. Lihat Ash-Shahihah no. 2914)&lt;br /&gt;Dari ‘Utsman bin ‘Affan رضي الله عنه bahwa Rasulullah  صلى الله عليه وسلم bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلّمَهُ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Al-Qur`an dan yang mengajarkannya.” (HR. Al-Bukhari no. 5028)&lt;br /&gt;Diungkapkan oleh Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullahu bahwa sesungguhnya membaca Kitabullah merupakan sebab tumbuhnya kebaikan. Sedangkan kebaikan pada anak (yaitu dengan menjadi anak shalih) akan membawa kebaikan bagi orangtua saat di dunia maupun setelah meninggal dunia. Ini sebagaimana disebutkan oleh Nabi صلى الله عليه وسلم dalam hadits Abu Hurairah رضي الله عنه&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاَثَةٍ: مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apabila manusia meninggal dunia, terputuslah darinya amal kecuali tiga hal. Yaitu, dari sedekah jariyah, atau ilmu yang bermanfaat, atau anak yang shalih yang mendoakan orangtuanya.” (HR. Muslim no. 1631, lihat Kitabul ‘Ilmi hal. 205)&lt;br /&gt;Diharapkan, dengan membekali anak dengan ilmu syar’i disertai bekal kemampuan lainnya, kelak diri anak bisa menjadi dai yang menyeru manusia ke jalan  dia menjadi bagian dari umat Rasulullah  صلى الله عليه وسلم yang mengemban tugas mulia. الله سبحنه وتعلى berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;قُلْ هَذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللهِ عَلَى بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي وَسُبْحَانَ اللهِ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Katakanlah: ‘Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik’.” (Yusuf: 108)&lt;br /&gt;Tentang ayat ini, Ibnu Katsir rahimahullahu menyatakan bahwa setiap orang yang mengikuti Rasulullah  صلى الله عليه وسلم menyeru kepada apa yang telah didakwahkan oleh beliau صلى الله عليه وسلم atas dasar bashirah (ilmu), keyakinan, burhan (dalil) secara aqli dan syar’i. (Tafsir Al-Qur`ainl ‘Azhim, 2/649)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersambung, insyaALLAH&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1610239576162246720-1487802167794814092?l=fajarilahi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fajarilahi.blogspot.com/feeds/1487802167794814092/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://fajarilahi.blogspot.com/2010/02/pendidikan-anak-dalam-pergulatan-1.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1610239576162246720/posts/default/1487802167794814092'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1610239576162246720/posts/default/1487802167794814092'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fajarilahi.blogspot.com/2010/02/pendidikan-anak-dalam-pergulatan-1.html' title='Pendidikan Anak dalam Pergulatan ~1~'/><author><name>@dmin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05096539022832868916</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_T379pRK2vJ4/S4W5vW2Vl8I/AAAAAAAAAD4/ZozvIKvEObI/s72-c/ilmu.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1610239576162246720.post-3194096672861149944</id><published>2010-02-22T02:15:00.000-08:00</published><updated>2010-02-22T04:19:57.902-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pendidikan'/><title type='text'>Untukmu Buah Hatiku.. Berhati-hatilah dengan Benda Asing Itu</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_T379pRK2vJ4/S4J2WxRTwDI/AAAAAAAAACo/gu3gAWJCotk/s1600-h/TV.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 124px; height: 124px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_T379pRK2vJ4/S4J2WxRTwDI/AAAAAAAAACo/gu3gAWJCotk/s400/TV.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5441041433372114994" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span"   style="  line-height: 15px; font-family:Georgia;font-size:13px;"&gt;Bagi Anda yang sudah mempunyai anak-anak kecil.&lt;br /&gt;Kita mendidik mereka mulai dari kecil...&lt;br /&gt;Dipupuk perlahan dengan ilmu islam yang indah ini..&lt;br /&gt;Dengan akhlak yang mulia...&lt;br /&gt;Akan tetapi, dengan secuil ilmu yang masuk dari benda asing, sebuah kotak namun memiliki sebongkah pengaruh yang dashyat.&lt;br /&gt;Akan mudah rusak dan sirnalah ilmu yang selama ini kita ajarkan kepada anak/buah hati kita.&lt;br /&gt;Na'udzubillahi min dzalik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b style="line-height: 1.22em; "&gt;Apa Hukum dan Pengaruh Televisi Bagi Anak?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya: Di antara fakta negatif yang menyebar di mana-mana, televisi hampir selalu hadir di setiap hunian. Padahal layar TV menayangkan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Acara nyanyian dan musik dengan segala instrumennya&lt;br /&gt;Serial kriminalisme&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah-kisah mitos dan khayalan&lt;br /&gt;Teater/drama yang diperankan laki-laki dan perempuan&lt;br /&gt;Pengaburan sejarah Islam dan kaum Muslimin dan orang shalih, dengan tampilnya wanita-wanita yang tidak menutup auratnya, ini bisa dilihat dalam serial sejarah.&lt;br /&gt;Film/sinetron dengan tema perselingkuhan dalam keluarga&lt;br /&gt;Tampilnya wanita dengan membuka aurat, menampakkan perhiasan, munculnya penyanyi wanita atau artis, dan lainnya.&lt;br /&gt;Si sela-sela program tersebut ; dibacakan Al-Qur’an dan hadits-hadits Nabi atau ceramah agama.&lt;br /&gt;Memvisualkan sahabat Nabi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau kita sudah mengetahui bahwa Idza’atil Qur’an Karim (sebuah stasiun radio) menyajikan program-program agama yang lebih baik dan lebih banyak dari apa yang ditayangkan TV, bahkan mengalahkan program-program berita baik lokal maupun internasional, jika kita telah mengetahui semua ini, maka:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[a]. Apakah boleh memiliki TV, hingga sampai (disaksikan) oleh mereka yang lemah pemahamannya dari kalangan wanita dan anak-anak. Mereka menyaksikannya sehingga tercampur antara yang hak dan batil?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[b]. Apakah boleh melihat wanita, remaja-remaja yang klimis (tidak berjenggot) dan tampan, juga mereka yang kadang-kadang berpenampilan banci yang bertentangan dengan kelelakian?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[c]. Apa yang harus dipikul oleh orang yang terpaksa memilikinya atau yang mengatakan: “Saya tidak bisa mengeluarkan TV dari rumah?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[d]. Apakah dibolehkan memilikinya bagi yang mengatakan: “Susah untuk mencegahnya dari nyanyian, perempuan, dan musik yang merupakan program tayangan (rutin), atau semisalnya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[e]. Apakah program-program yang saya sebutkan sesuai dengan syari’at Islam?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[f]. Secara umum, apakah boleh bagi laki-laki maupun perempuan menonton acara-acara tersebut?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawaban:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuh point pertama dari program TV yang anda sebutkan tidak diragukan lagi keharamannya. Orang yang memahami syariah Islam dan sumber hukumnya tidak akan ragu atau bimbang terhadap haramnya hal ini karena daya rusaknya terhadap agama, moral, keamanan dan masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga Allah memberikan taufik kepada para penanggung jawab TV untuk menjauhinya demi tercapainya kebaikan dan keselamatan serta menjauhi sebab-sebab kejahatan dan fitnah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masuknya selingan program Al-Qur’an dan acara-acara keagamaan dalam rangkaian acara tersebut adalah salah satu bentuk kombinasi antara dua hal yang saling berlawanan. Dan membeli TV untuk menyaksikan apa yang disebutkan diatas jelas haram. Sebab menonton perbuatan haram hukumnya juga haram. Karena itulah, siapa saja yang memiliki TV dan mengetahui atau menurut dugaannya bahwa dirinya tidak mampu menjauhi tayangan tersebut, berarti dia telah bersikeras dan ngotot dalam (melakukan) sesuatu yang haram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian pula orang yang membelinya untuk keluarga dan anak-anaknya yang tidak bisa menghindari dari hal-hal (yang diharamkan) tersebut -meski ia sendiri tidak ikut menyaksikannya- maka dia tetap berdosa karena telah memfasilitasi untuk suatu yang haram, dan termasuk satu bentuk pendidikan yang buruk yang akan dia pertanggung jawabkan di akhirat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara menonton TV tanpa memilikinya secara pribadi ada tiga macam:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[1]. Menyaksikan tontonan yang bermanfaat bagi agama dan dunianya, hal ini tidak masalah kecuali jika bisa menyeret pada suatu yang haram, seperti seorang wanita yang asyik memandangi presenter laki-laki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[2]. Menonton tayangan yang berbahaya terhadap agama. Ini haram, karena seorang mukmin wajib memelihara agamanya dari bahaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[3]. Melihat acara yang tidak bermanfaat juga tidak berbahaya. Tindakan ini termasuk laghwun (sia-sia) dan tidak layak seorang mukmin yang berkemauan keras menyia-nyiakan waktu dengan acara seperti itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga Allah memperbaiki keadaan kaum muslimin dan memelihara mereka dari kejahatan dunia dan akhirat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Syaikh Ibnu Utsaimin, Fatawa Islamiyah 4/371)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Disalin dari kitab Fatawa Ath-thiflul Muslim, edisi Indonesia 150 Fatwa Seputar Anak Muslim, Penyusun Yahya bin Sa’id Alu Syalwan, Penerjemah Ashim, Penerbit Griya Ilmu)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: &lt;a rel="nofollow" target="_blank" href="http://almanhaj.or.id/" style="color: rgb(30, 102, 174); line-height: 1.22em; font-family: Verdana; "&gt;almanhaj.or. id&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1610239576162246720-3194096672861149944?l=fajarilahi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fajarilahi.blogspot.com/feeds/3194096672861149944/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://fajarilahi.blogspot.com/2010/02/untukmu-buah-hatiku-berhati-hatilah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1610239576162246720/posts/default/3194096672861149944'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1610239576162246720/posts/default/3194096672861149944'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fajarilahi.blogspot.com/2010/02/untukmu-buah-hatiku-berhati-hatilah.html' title='Untukmu Buah Hatiku.. Berhati-hatilah dengan Benda Asing Itu'/><author><name>@dmin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05096539022832868916</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_T379pRK2vJ4/S4J2WxRTwDI/AAAAAAAAACo/gu3gAWJCotk/s72-c/TV.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1610239576162246720.post-3171155074198674</id><published>2010-02-21T06:26:00.000-08:00</published><updated>2010-02-21T06:36:50.419-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sunnah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pendidikan'/><title type='text'>Mendidik Anak dengan Sunnah</title><content type='html'>&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: verdana, arial, 'trebuchet ms', sans-serif; font-size: 13px; color: rgb(51, 51, 51); line-height: 23px; "&gt;&lt;p style="margin-top: 20px; margin-right: 0px; margin-bottom: 20px; margin-left: 0px; padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; "&gt;&lt;em style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; "&gt;Pertanyaan :&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 20px; margin-right: 0px; margin-bottom: 20px; margin-left: 0px; padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; "&gt;&lt;em style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; "&gt;Assalammualaikum warahmatullah wabarakatuh&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Pak ustadz saya ada sedikit problem utk mendidik anak,&lt;/p&gt;&lt;ol style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; "&gt;&lt;li style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 10px; margin-left: 20px; padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; "&gt;Saya sudah coba mendidik anak saya agar tidak mengamalkan hadist dhaif dgn cara saya terangkan ttg keshahihan dan kedhaifan satu hadist, pernah satu kali dia berdebat dgn temannya pada saat diajak makan bersama dan kawannya ini mengajak doa sebelum makan &lt;em style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; "&gt;“Allahuma bariklana fii ma Rajaqtana wqina azabanar”&lt;/em&gt; lalu anak saya tak mau mengikuti dan terjadi perdebatan jawab anak saya: Nabi muhammad tdk mengajari ini (dan ini tdk sah) jadi hanya bismilah saja. Tapi pak anak saya ini baru berumur 6 thn jadi dia hanya mejelaskan yang saya katakan, sementara maksud saya itu hanya utk anak saya saja sendiri dulu jgn dilingkungan sosial/kawan mainnya karena namanya juga masih kecil blm bisa menjelaskan lebih. Salahkah cara saya mendidik?&lt;/li&gt;&lt;li style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 10px; margin-left: 20px; padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; "&gt;Saat saya bekerja saya selalu mengingatkan anak saya utk shalat kemasjid berjamaah, biasanya setiap shalat magrib &amp;amp; isya selalu berjamah bersama saya. Kemarin pada saat saya blm pulang mereka tak mau disurh kemasjid shalat berjamaah, tapi mereka melakukan shalat di rumah dan mereka berjamah berdua kakak (6 thn) dan adiknya (4 thn).&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;p style="margin-top: 20px; margin-right: 0px; margin-bottom: 20px; margin-left: 0px; padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; "&gt;&lt;span id="more-16" style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; "&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 20px; margin-right: 0px; margin-bottom: 20px; margin-left: 0px; padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; "&gt;Pertanyaannya:&lt;/p&gt;&lt;ol style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; "&gt;&lt;li style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 10px; margin-left: 20px; padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; "&gt;Kapan mereka mulai dianjurkan shalat di masjid?&lt;/li&gt;&lt;li style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 10px; margin-left: 20px; padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; "&gt;Pada saat mereka shalat berjamah berdua sebelumnya mereka iqomah dan ada yg salah lalu kakaknya bilang nggak pa-pa masih kecil lalu mereka shalat berjamaah di rumah.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;p style="margin-top: 20px; margin-right: 0px; margin-bottom: 20px; margin-left: 0px; padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; "&gt;Terimakasih atas penjelasannya dan saya minta doanya semoga anak saya menjadi generasi salafiyun yg toat, dan mereka diberikan kemudahan mempelajari ilmu-ilmu Allah. &lt;em style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; "&gt;Jazakallah Khairan Khatshiran.&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 20px; margin-right: 0px; margin-bottom: 20px; margin-left: 0px; padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; "&gt;&lt;strong style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; "&gt;Jawaban Ustadz:&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 20px; margin-right: 0px; margin-bottom: 20px; margin-left: 0px; padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; "&gt;Alhamdulillah, sholawat dan salam semoga senantiasa terlimpahkan kepada Nabi Muhammad &lt;em style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; "&gt;shollallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt;, keluarga, sahabat dan seluruh orang yang mengikuti jejaknya hingga hari kiamat. &lt;em style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; "&gt;Amiin.&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 20px; margin-right: 0px; margin-bottom: 20px; margin-left: 0px; padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; "&gt;Mohon maaf sebelumnya, karena sangat telat menjawab pertanyaan Bapak Jhono. Apa yang bapak lakukan dalam mendidik anak bapak, adalah sudah benar adanya, yaitu mengajari dan membiasakan anak-anak bapak dengan amalan sunnah dan adab-adab yang diajarkan Nabi Muhammad &lt;em style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; "&gt;shollallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt; dalam berbagai kesempatan dan keadaan. Karena dengan membiasakan mereka adab-adab islami, amalan islami dan juga akidah islami semenjak dini, akan menjadikan apa yang kita ajarkan benar-benar tertanam kokoh dalam jiwa mereka. Hal ini sebagaimana dicontohkan oleh Nabi Muhammad &lt;em style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; "&gt;shollallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt; dalam banyak hadits, di antaranya:&lt;/p&gt;&lt;p class="arab" style="margin-top: 20px; margin-right: 0px; margin-bottom: 20px; margin-left: 0px; padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; font-size: 22px; font-family: 'Traditional Arabic', 'Arabic Typesetting', Tahoma, sans-serif; text-align: right; "&gt;عن بن عباس قال كنت خلف رسول الله صلى الله عليه وسلم يوما فقال ثم يا غلام إني أعلمك كلمات احفظ الله يحفظك احفظ الله تجده تجاهك إذا سألت فاسأل الله وإذا استعنت فاستعن بالله واعلم أن الأمة لو اجتمعت على أن ينفعوك بشيء لم ينفعوك إلا بشيء قد كتبه الله لك ولو اجتمعوا على أن يضروك بشيء لم يضروك إلا بشيء قد كتبه الله عليك رفعت الأقلام وجفت الصحف. رواه أحمد والترمذي&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 20px; margin-right: 0px; margin-bottom: 20px; margin-left: 0px; padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; "&gt;&lt;em style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; "&gt;“Dari sahabat Ibnu Abbas ia berkata: Suatu hari aku membonceng Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam, maka beliau bersabda kepadaku: ‘Wahai nak, sesungguhnya aku akan ajarkan kepadamu beberapa kalimat: Jagalah (syariat) Allah, niscaya Allah akan menjagamu, jagalah (syariat) Allah, niscaya engkau akan dapatkan (pertolongan/perlindungan) Allah senantiasa di hadapanmu. Bila engkau meminta (sesuatu) maka mintalah kepada Allah, bila engkau memohon pertolongan, maka mohonlah pertolongan kepada Allah. Ketahuilah (yakinilah) bahwa umat manusia seandainya bersekongkol untuk memberimu suatu manfaat, niscaya mereka tidak akan dapat memberimu manfaat melainkan dengan sesuatu yang telah Allah tuliskan untukmu, dan seandainya mereka bersekongkol untuk mencelakakanmu, niscaya mereka tidak akan mampu mencelakakanmu selain dengan suatu hal yang telah Allah tuliskan atasmu. Al Qalam (pencatat takdir) telah diangkat, dan lembaran-lembaran telah kering.’”&lt;/em&gt; (Riwayat Ahmad, dan At Tirmizy)&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 20px; margin-right: 0px; margin-bottom: 20px; margin-left: 0px; padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; "&gt;Betapa besar dan betapa dalam pendidikan yang diberikan oleh Rasulullah&lt;em style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; "&gt;shallallahu ’alaihi wa sallam&lt;/em&gt; kepada anak pamannya Abdullah bin ‘Abbas, berbagai wasiat yang berupa aqidah islam beliau sampaikan padanya. Dan perlu diketahui, bahwa Abdullah bin ‘Abbas &lt;em style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; "&gt;radhiallahu ‘anhuma&lt;/em&gt; dilahirkan 3 tahun sebelum Nabi &lt;em style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; "&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt; berhijrah, dengan demikian ketika Nabi &lt;em style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; "&gt;shollallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt; meninggal dunia, umur beliau kira-kira 13 tahun.&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 20px; margin-right: 0px; margin-bottom: 20px; margin-left: 0px; padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; "&gt;Prinsip-prinsip aqidah dan keyakinan seorang muslim telah beliau tanamkan pada diri Abdullah bin Abbas semenjak ia belum baligh, bukan hanya adab-adab yang berkenaan dengan amaliyah sehari-hari, shalat berjamaah dll.&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 20px; margin-right: 0px; margin-bottom: 20px; margin-left: 0px; padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; "&gt;Begitu juga halnya dengan cucu beliau Al Hasan bin Ali bin Abi Thalib&lt;em style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; "&gt;rodhiallahu ‘anhu&lt;/em&gt;, beliau dilahirkan pada tahun 3 hijriah, sehingga ketika Nabi&lt;em style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; "&gt;shollallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt; wafat, ia berumur 7 tahun. Walau demikian hal-hal prinsip telah beliau ajarkan kepadanya, di antaranya adalah haramnya memakan harta shadaqah bagi keluarga Nabi &lt;em style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; "&gt;shollallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt;:&lt;/p&gt;&lt;p class="arab" style="margin-top: 20px; margin-right: 0px; margin-bottom: 20px; margin-left: 0px; padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; font-size: 22px; font-family: 'Traditional Arabic', 'Arabic Typesetting', Tahoma, sans-serif; text-align: right; "&gt;أخذ الحسن بن علي رضي الله عنهما تمرة من تمر الصدقة فجعلها في فيه فقال النبي صلى الله عليه وسلم: كخ كخ ليطرحها ثم قال أما شعرت أنا لا نأكل الصدقة. متفق عليه&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 20px; margin-right: 0px; margin-bottom: 20px; margin-left: 0px; padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; "&gt;&lt;em style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; "&gt;“Al Hasan bin Ali rodhiallahu ‘anhuma mengambil sebiji kurma dari kurma shadaqah (zakat), kemudian ia memasukkannya ke dalam mulut (hendak memakannya) maka Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadanya: ‘Kakh, kakh,’ agar ia mencampakkannya, kemudian beliau bersabda kepadanya, ‘Tidakkah engkau sadar bahwa kita tidak (halal) memakan shadaqah?’”&lt;/em&gt; (Muttafaqun ‘alaih)&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 20px; margin-right: 0px; margin-bottom: 20px; margin-left: 0px; padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; "&gt;Hadits ini menjadi dasar kuat bagi prinsip pendidikan anak, yaitu semenjak dini kita ajarkan anak-anak kita untuk tidak memakan harta haram, dan menjauhi segala makanan yang tidak boleh dimakan. Dan juga menjauhi segala perbuatan yang tidak dibenarkan dalam agama. Di antara yang menunjukkan bahwa pendidikan anak harus dilakukan semenjak dini ialah hadits berikut:&lt;/p&gt;&lt;p class="arab" style="margin-top: 20px; margin-right: 0px; margin-bottom: 20px; margin-left: 0px; padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; font-size: 22px; font-family: 'Traditional Arabic', 'Arabic Typesetting', Tahoma, sans-serif; text-align: right; "&gt;عن عمر بن أبي سلمة رضي الله عنه يقول :كنت غلاما في حجر رسول الله صلى الله عليه وسلم وكانت يدي تطيش في الصحفة، فقال لي رسول الله صلى الله عليه وسلم: يا غلام سم الله وكل بيمينك وكل مما يليك فما زالت تلك طعمتي بعد. متفق عليه&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 20px; margin-right: 0px; margin-bottom: 20px; margin-left: 0px; padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; "&gt;&lt;em style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; "&gt;“Dari sahabat Umar bin Abi Salamah radhiallahu ‘anhu, ia mengisahkan: Dahulu ketika aku masih kecil dan menjadi anak tiri Rasulullah &lt;/em&gt;&lt;em style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; "&gt;shallallahu ’alaihi wa sallam&lt;/em&gt;&lt;em style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; "&gt;, dan (bila sedang makan) tanganku (aku) julurkan ke segala sisi piring, maka Rasulullah &lt;/em&gt;&lt;em style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; "&gt;shallallahu ’alaihi wa sallam&lt;/em&gt;&lt;em style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; "&gt; bersabda, ‘Hai nak, bacalah bismillah, dan makanlah dengan tangan kananmu, dan makanlah dari sisi yang terdekat darimu.’ Maka semenjak itu, itulah etikaku ketika aku makan.”&lt;/em&gt; (Muttafaqun ‘alaih)&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 20px; margin-right: 0px; margin-bottom: 20px; margin-left: 0px; padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; "&gt;Perlu diketahui, bahwa Umar bin Abi Salamah ini lahir pada tahun kedua hijriah, dan ketika Nabi &lt;em style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; "&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt; meninggal dunia, ia baru berumur 7 tahun, sehingga ia belum baligh, ketika diajari oleh Nabi &lt;em style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; "&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt; adab-adab makan di atas. Dan secara khusus yang berkenaan dengan shalat, maka Nabi &lt;em style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; "&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt; telah bersabda:&lt;/p&gt;&lt;p class="arab" style="margin-top: 20px; margin-right: 0px; margin-bottom: 20px; margin-left: 0px; padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; font-size: 22px; font-family: 'Traditional Arabic', 'Arabic Typesetting', Tahoma, sans-serif; text-align: right; "&gt;مروا أولادكم بالصلاة و هم أبناء سبع سنين و اضربوهم عليها و هم أبناء عشر. رواه أحمد وأبو داود والحاكم&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 20px; margin-right: 0px; margin-bottom: 20px; margin-left: 0px; padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; "&gt;&lt;em style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; "&gt;“Perintahlah anak-anakmu agar mendirikan shalat tatkala mereka telah berumur tujuh tahun, dan pukullah karenanya tatkala mereka telah berumur sepuluh tahun.”&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 20px; margin-right: 0px; margin-bottom: 20px; margin-left: 0px; padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; "&gt;Pada hadits ini Nabi &lt;em style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; "&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt; dengan tegas mensyariatkan agar pendidikan shalat dimulai semenjak dini, yaitu sebelum baligh, bahkan ketika ia baru berumur tujuh tahun ia sudah diperintahkan untuk shalat. Tentu syariat ini memerlukan persiapan, yaitu dengan mengajarkan tata cara shalat, dimulai dari cara berwudhu, rukun-rukun shalat, wajib-wajibnya, sunnah-sunnahnya, hingga yang membatalkannya. Dan persiapan ini bisa dilakukan semenjak dini walau ia belum diperintahkan, dan tidak perlu dimarahi kalau tidak mau shalat. Akan tetapi bila sudah berumur tujuh tahun, maka disyariatkan untuk memerintahkannya shalat, dengan pengertian: kita mewajibkan atasnya, dan bila ia tidak mau maka kita memarahinya, walau tidak sampai menghukuminya dengan memukul, tapi cukup dengan ucapan. Dan bila sudah berumur sepuluh tahun, maka kita disyariatkan memukulnya bila ia tidak mau shalat.&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 20px; margin-right: 0px; margin-bottom: 20px; margin-left: 0px; padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; "&gt;&lt;strong style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; "&gt;Kesimpulan:&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 20px; margin-right: 0px; margin-bottom: 20px; margin-left: 0px; padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; "&gt;Pertama, untuk pendidikan, maka tidak ada batas waktu kapan dimulainya, bahkan berbagai dalil di atas, menunjukkan bahwa seyogyanya pendidikan baik yang berkaitan dengan penanaman nilai-nilai aqidah islamiah, adab-adab islami, atau amaliah islamiah dimulai sedini mungkin. Bahkan para ulama menyebutkan bahwa pendidikan bukan hanya dimulai hanya setelah sang anak terlahirkan ke dunia, akan tetapi dimulai jauh-jauh hari, yaitu dengan cara memilih pasangan yang saleh, sebagaimana disebutkan dalam hadits:&lt;/p&gt;&lt;p class="arab" style="margin-top: 20px; margin-right: 0px; margin-bottom: 20px; margin-left: 0px; padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; font-size: 22px; font-family: 'Traditional Arabic', 'Arabic Typesetting', Tahoma, sans-serif; text-align: right; "&gt;تخيروا لنطفكم وانكحوا الأكفاء وأنكحوا إليهم رواه ابن ماجة والحاكم&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 20px; margin-right: 0px; margin-bottom: 20px; margin-left: 0px; padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; "&gt;&lt;em style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; "&gt;“Pilihlah tempat engkau menanamkan air mani (benih)mu, dan nikahilah wanita-wanita yang sekufu (sederajat), dan nikahkanlah mereka (dengan wanita-wanita yang berada di bawah perwalianmu).”&lt;/em&gt; (Riwayat Ibnu Majah, dan Al Hakim)&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 20px; margin-right: 0px; margin-bottom: 20px; margin-left: 0px; padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; "&gt;Kedua, Pendidikan bukan hanya dengan cara mengajari mereka, akan tetapi lebih dari itu, karena mencakup banyak hal, diantaranya adalah menjaga mereka dari makanan yang tidak halal, dan segala yang tidak halal untuk mereka, sebagaimana yang dicontohkan oleh Nabi &lt;em style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; "&gt;shollallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt; bersama cucunya Al Hasan bin Ali bin Abi Thalib &lt;em style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; "&gt;rodhiallahu ‘anhuma&lt;/em&gt;. Dengan demikian ini adalah tanggung jawab besar yang dipikul oleh setiap orang tua, yaitu hendaknya mereka mencari nafkah untuk keluarga, istri dan anaknya dari jalan-jalan yang halal, dan benar-benar ia ketahui akan kehalalannya, agar anaknya benar-benar tumbuh menjadi anak yang saleh, dan akan lebih mudah dididik dengan pendidikan yang benar. Oleh karena itu bila suatu saat kita merasa mendapatkan kesulitan dalam mendidik anak kita, maka hendaknya permasalahan ini dikoreksi ulang, yaitu: Apakah seluruh nafkah yang saya berikan kepada anak saya benar-benar halal? Pada kesempatan ini, betapa perlunya kita semua untuk merenungkan kisah yang disebutkan oleh Nabi &lt;em style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; "&gt;shollallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt; berikut,&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 20px; margin-right: 0px; margin-bottom: 20px; margin-left: 0px; padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; "&gt;&lt;em style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; "&gt;“Ada seseorang yang safar jauh, keadaannya kusut dan berdebu, menengadahkan kedua tangannya ke langit, sambil berkata: Ya Rab, Ya Rab, akan tetapi makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, dan diberi makan dengan makanan yang haram, maka mana mungkin akan dikabulkan do’anya.”&lt;/em&gt; (HRS Muslim)&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 20px; margin-right: 0px; margin-bottom: 20px; margin-left: 0px; padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; "&gt;Para ulama menjelaskan bahwa alasan keempat ditolaknya doa orang tersebut ialah karena semasa ia masih kecil ia diberi nafkah dari harta yang haram, sebagaimana dijelaskan oleh Al Mubarakfury dan Syaikh Muhammad bin Shaleh Al Utsaimin. Maka sadar dan pikirkanlah semenjak sekarang wahai saudara-saudaraku tentang nasib anak kita, dan masa depan anak keturunan kita, jangan sampai karena dosa kita, yaitu mencari harta dari jalan-jalan yang haram, dan kemudian kita nafkahkan kepada mereka, doa-doa yang kelak mereka panjatkan tidak diterima Allah ta’ala.&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 20px; margin-right: 0px; margin-bottom: 20px; margin-left: 0px; padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; "&gt;Ketiga, pendidikan anak akan lebih menghasilkan buahnya bila disertai dengan adanya &lt;em style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; "&gt;uswah hasanah&lt;/em&gt;, yaitu dengan cara mencontohkan setiap yang kita ajarkan pada mereka dalam bentuk praktek nyata dari orang tua. Cermatilah sabda Nabi &lt;em style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; "&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt; di atas kepada cucunya Al Hasan, yaitu tatkala beliau bersabda kepadanya &lt;em style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; "&gt;“Tidakkah engkau sadar bahwa kita tidak (halal) memakan shadaqah?”&lt;/em&gt; Pada hadits ini Nabi&lt;em style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; "&gt;shollallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt; menyebutkan kepada Al Hasan, bahwa syariat ini, yaitu haramnya shadaqah, bukan hanya berlaku pada dirinya saja, akan tetapi berlaku bagi seluruh keluarga Nabi &lt;em style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; "&gt;shalallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt;, sehingga beliau menyebutkan alasan larangan ini dengan kata-kata &lt;em style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; "&gt;“kita”&lt;/em&gt;. Dan pembahasan masalah &lt;em style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; "&gt;uswah hasanah&lt;/em&gt; dan perannya amat panjang, dan bukan ini saatnya untuk saya sebutkan.&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 20px; margin-right: 0px; margin-bottom: 20px; margin-left: 0px; padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; "&gt;Keempat, di antara metode pendidikan yang diajarkan oleh Nabi &lt;em style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; "&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt; ialah dengan menggunakan metode “perintah dan larangan”. Metode ini dengan jelas dapat kita amati pada hadits-hadits yang saya sebutkan di atas. Dan hal ini “larangan dan perintah” merupakan salah satu pokok ajaran islam, yang lebih dikenal dengan sebutan “&lt;em style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; "&gt;amar ma’ruf&lt;/em&gt; dan&lt;em style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; "&gt;nahi mungkar&lt;/em&gt;“. Dan sudah barang tentu metode ini menyelisihi metode pendidikan yang sedang dikembangkan di dunia kafir dan diikuti oleh banyak sekolah-sekolah islam terpadu, yaitu mengajarkan dengan cara menyampaikan tanpa memerintah atau melarang. Metode yang sedang digandrungi oleh banyak ormas islam dan sekolah-sekolah islam ini amat berbahaya bagi kelangsungan agama mereka, sebab ini akan mengikis habis prinsip &lt;em style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; "&gt;amar ma’ruf &lt;/em&gt;&amp;amp; &lt;em style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; "&gt;nahi mungkar&lt;/em&gt; dari jiwa mereka. Maka hendaknya umat Islam sadar dan mengkaji kembali berbagai metode pendidikan yang selama ini mereka terapkan, dan meningkatkan daya dan upaya mereka guna mengkaji metode pendidikan yang diajarkan dalam syariat.&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 20px; margin-right: 0px; margin-bottom: 20px; margin-left: 0px; padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; "&gt;Kelima, di antara metode pendidikan yang dapat kita simpulkan dari hadits-hadits di atas ialah dibenarkannya hukuman fisik, yaitu berbentuk pukulan, bahkan Nabi &lt;em style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; "&gt;shollallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt; dengan jelas memerintahkan kita untuk memukul anak-anak kita bila mereka telah berumur 10 tahun dan berani meninggalkan shalat atau bermalas-malasan untuk shalat. Bukan hanya dalam mendidik anak saja kita disyariatkan untuk memukul, bahkan dalam mendidik istri (yang tentu sudah baligh dan dewasa, dan mungkin sudah berumur 60 tahun) kita juga disyariatkan untuk menggunakan metode memukul, sebagaimana ditegaskan dalam firman Allah berikut:&lt;/p&gt;&lt;p class="arab" style="margin-top: 20px; margin-right: 0px; margin-bottom: 20px; margin-left: 0px; padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; font-size: 22px; font-family: 'Traditional Arabic', 'Arabic Typesetting', Tahoma, sans-serif; text-align: right; "&gt;وَاللَّاتِي تَخَافُونَ نُشُوزَهُنَّ فَعِظُوهُنَّ وَاهْجُرُوهُنَّ فِي الْمَضَاجِعِ وَاضْرِبُوهُنَّ&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 20px; margin-right: 0px; margin-bottom: 20px; margin-left: 0px; padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; "&gt;&lt;em style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; "&gt;“Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya (sikap tidak taat pada suami), maka nasehatilah mereka dan pukullah mereka.”&lt;/em&gt; (QS. An Nisa’: 34)&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 20px; margin-right: 0px; margin-bottom: 20px; margin-left: 0px; padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; "&gt;Dan dalam hadits Nabi &lt;em style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; "&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt; bersabda:&lt;/p&gt;&lt;p class="arab" style="margin-top: 20px; margin-right: 0px; margin-bottom: 20px; margin-left: 0px; padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; font-size: 22px; font-family: 'Traditional Arabic', 'Arabic Typesetting', Tahoma, sans-serif; text-align: right; "&gt;عن معاوية بن حيدة رضي الله عنه قال قلت يا رسول الله ما حق زوجة أحدنا عليه قال أن تطعمها إذا طعمت وتكسوها إذا اكتسيت ولا تضرب الوجه…. رواه أبو داود وابن حبان&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 20px; margin-right: 0px; margin-bottom: 20px; margin-left: 0px; padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; "&gt;&lt;em style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; "&gt;“Dari Mu’awiyyah bin Haidah radhiallahu ‘anhu ia berkata, Aku bertanya kepada Rasulullah, ‘Ya Rasulullah! Apakah hak-hak istri kami atas kami?’ Beliau menjawab, ‘Engkau beri makan mereka bila engkau makanan, engkau beri mereka pakaian bila engkau berpakaian, dan janganlah engkau memukul wajah…’”&lt;/em&gt; (Riwayat Abu Dawud dan Ibnu Hibban)&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 20px; margin-right: 0px; margin-bottom: 20px; margin-left: 0px; padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; "&gt;Dan dalam hadits lain Nabi bersabda:&lt;/p&gt;&lt;p class="arab" style="margin-top: 20px; margin-right: 0px; margin-bottom: 20px; margin-left: 0px; padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; font-size: 22px; font-family: 'Traditional Arabic', 'Arabic Typesetting', Tahoma, sans-serif; text-align: right; "&gt;فاضربوهن ضربا غير مبرح رواه مسلم&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 20px; margin-right: 0px; margin-bottom: 20px; margin-left: 0px; padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; "&gt;&lt;em style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; "&gt;“Pukullah mereka dengan pukulan yang tidak keras (tidak membikin patah tulang, atau luka, atau mengeluarkan darah, atau meninggalkan bekas).”&lt;/em&gt;(HR. Muslim)&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 20px; margin-right: 0px; margin-bottom: 20px; margin-left: 0px; padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; "&gt;Tentunya metode ini tidak dilakukan dengan sembarangan dan semena-mena, atau bahkan dengan cara-cara yang menjadikan anak cidera atau terluka, atau memukul di muka dll, sebagaimana yang dijelaskan dalam dua hadits di atas. Dan tentunya tidak dilakukan setiap saat, sebagaimana hal ini jelas dari teks ayat di atas, yaitu bila nasihat dan peringatan yang berbentuk kata-kata tidak berguna atau tidak dihiraukan lagi.&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 20px; margin-right: 0px; margin-bottom: 20px; margin-left: 0px; padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; "&gt;Keenam, dan yang tidak kalah penting dalam pendidikan anak adalah pembenahan terhadap diri sendiri, jadilah orang yang saleh, dan bertakwa, -dengan izin Allah- bila hal ini telah tercapai, dan kita mendidik anak-anak kita dengan baik, anak-anak kita akan menjadi anak saleh pula. Pada kesempatan ini saya mengajak para pembaca untuk merenungkan kisah yang disebutkan dalam Al Quran, yaitu yang disebutkan dalam surat Al Kahfi ayat 74-82:&lt;/p&gt;&lt;p class="arab" style="margin-top: 20px; margin-right: 0px; margin-bottom: 20px; margin-left: 0px; padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; font-size: 22px; font-family: 'Traditional Arabic', 'Arabic Typesetting', Tahoma, sans-serif; text-align: right; "&gt;فَانطَلَقَا حَتَّى إِذَا لَقِيَا غُلاَمًا فَقَتَلَهُ قَالَ أَقَتَلْتَ نَفْسًا زَكِيَّةً بِغَيْرِ نَفْسٍ لَّقَدْ جِئْتَ شَيْئًا نُّكْرًا {74} قَالَ أَلَمْ أَقُل لَّكَ إِنَّكَ لَن تَسْتَطِيعَ مَعِىَ صَبْرًا {75} قَالَ إِن سَأَلْتُكَ عَن شَىْءٍ بَعْدَهَا فَلاَ تُصَاحِبْنِي قَدْ بَلَغْتَ مِن لَّدُنِّي عُذْرًا {76} فَانطَلَقَا حَتَّى إِذَآ أَتَيَآ أَهْلَ قَرْيَةٍ اسْتَطْعَمَآ أَهْلَهَا فَأَبَوْا أَن يُضَيِّفُوهُمَا فَوَجَدَا فِيهَا جِدَارًا يُرِيدُ أَن يَنقَضَّ فَأَقَامَهُ قَالَ لَوْ شِئْتَ لَتَّخَذْتَ عَلَيْهِ أَجْرًا {77} قَالَ هَذَا فِرَاقُ بَيْنِي وَبَيْنِكَ سَأُنَبِّئُكَ بِتَأْوِيلِ مَالَمْ تَسْتَطِعْ عَّلَيْهِ صَبْرًا {78} أَمَّا السَّفِينَةُ فَكَانَتْ لِمَسَاكِينَ يَعْمَلُونَ فِي الْبَحْرِ فَأَرَدتُّ أَنْ أَعِيبَهَا وَكَانَ وَرَاءَهُم مَّلِكٌ يَأْخُذُ كُلَّ سَفِينَةٍ غَصْبًا {79} وَأَمَّا الْغُلاَمُ فَكَانَ أَبَوَاهُ مُؤْمِنَيْنِ فَخَشِينَآ أَن يُرْهِقَهُمَا طُغْيَانًا وَكُفْرًا {80} فَأَرَدْنَآ أَن يُبْدِلَهُمَا رَبُّهُمَا خَيْرًا مِنْهُ زَكَاةً وَأَقْرَبَ رُحْمًا {81} وَأَمَّا الْجِدَارُ فَكَانَ لِغُلاَمَيْنِ يَتِيمَيْنِ فِي الْمَدِينَةِ وَكَانَ تَحْتَهُ كَنزٌ لَّهُمَا وَكَانَ أَبُوهُمَا صَالِحًا فَأَرَادَ رَبُّكَ أَن يَبْلُغَآ أَشُدَّهُمَا وَيَسْتَخْرِجَا كَنزَهُمَا رَحْمَةً مِن رَّبِّكَ وَمَافَعَلْتُهُ عَنْ أَمْرِي ذَلِكَ تَأْوِيلُ مَالَمْ تَسْطِعْ عَّلَيْهِ صَبْرًا {82}&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 20px; margin-right: 0px; margin-bottom: 20px; margin-left: 0px; padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; "&gt;&lt;em style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; "&gt;“Maka berjalanlah keduanya; hingga tatkala keduanya berjumpa dengan seorang anak, maka Khidihr membunuhnya. Musa berkata: ‘Mengapa kamu bunuh jiwa yang bersih, bukan karena dia membunuh orang lain Sesungguhnya kamu telah melakukan suatu yang mungkar.’ Khidhr berkata: ‘Bukankah sudah kukatakan kepadamu, bahwa sesungguhnya kamu tidak akan dapat sabar bersamaku.’ Musa berkata: ‘Jika aku bertanya kepadamu tentang sesuatu sesudah (kali) ini, maka janganlah kamu memperbolehkan aku menyertaimu, sesungguhnya kamu sudah cukup memberikan uzur kepadaku.’ Maka keduanya berjalan; hingga tatkala keduanya sampai kepada penduduk suatu negeri, mereka minta dijamu kepada penduduk negeri itu, tetapi penduduk negeri itu tidak mau menjamu mereka, kemudian keduanya mendapatkan dalam negeri itu dinding rumah yang hampir roboh, maka Khidhr menegakkan dinding itu. Musa berkata: ‘Jikalau kamu mau, niscaya kamu mengambil upah untuk itu.’ Khidihr berkata: ‘Inilah perpisahan antara aku dengan kamu; Aku akan memberitahukan kepadamu tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya. Adapun bahtera itu kepunyaan orang-orang miskin yang bekerja di laut, dan aku bertujuan merusakkan bahtera itu, karena dihadapan mereka ada seorang raja yang merampas tiap-tiap bahtera. Dan adapun anak itu maka kedua orang tuanya adalah orang-orang mu’min, dan kami khawatir bahwa dia akan mendorong kedua orang tuanya itu kepada kesesatan dan kekafiran. Dan kami menghendaki, supaya Rabb mereka mengganti bagi mereka dengan anak lain yang lebih baik kesuciannya dari anak itu dan lebih dalam kasih sayangnya (kepada ibu bapaknya. Adapun dinding rumah itu adalah kepunyaan dua orang anak yatim di kota itu, dan di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua, sedang ayahnya adalah seorang yang saleh, maka Rabbmu menghendaki agar supaya mereka sampai kepada kedewasaannya dan mengeluarkan simpanan itu, sebagai rahmat dari Rabbmu; dan bukanlah aku melakukannya itu menurut kemauanku sendiri. Demikian itu adalah tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya.’”&lt;/em&gt; (QS. Al Kahfi: 74-82)&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 20px; margin-right: 0px; margin-bottom: 20px; margin-left: 0px; padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; "&gt;Betapa jelasnya kisah ini, pada kisah pertama, Allah mengutus Khidir untuk membunuh seorang anak yang bila hidup hingga dewasa akan menjadikan kedua orang tuanya yang mereka adalah orang-orang saleh menjadi sesat dan kafir.&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 20px; margin-right: 0px; margin-bottom: 20px; margin-left: 0px; padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; "&gt;Dan pada kisah kedua Allah memerintahkan Khidir untuk menegakkan pagar dinding yang hendak roboh, dan ternyata alasannya adalah karena di bawah dinding itu tersimpan harta peninggalan dua orang saleh untuk anak mereka berdua yang masih kecil. Jadi yang menjadi alasan adalah kesalehan orang tua, buka karena anaknya yang saleh.&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 20px; margin-right: 0px; margin-bottom: 20px; margin-left: 0px; padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; "&gt;Dari kisah ini dengan jelas kita mendapatkan banyak pelajaran penting dalam dunia pendidikan, yaitu bila orang tuanya saleh, maka -atas izin Allah- anak keturunannya akan dijaga Allah, bukan hanya tentang kehidupannya di dunia, akan tetapi sampai yang berkenaan dengan kehidupan akhiratnya. Oleh karena itu, betapa perlunya kita untuk merenungkan kisah ini, sehingga timbul di jiwa kita keyakinan dan iman bahwa Alah adalah benar-benar akan menjadi wali/pengurus orang-orang saleh.&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 20px; margin-right: 0px; margin-bottom: 20px; margin-left: 0px; padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; "&gt;Dan mungkin yang perlu kita perhatikan dalam mendidik anak kecil ialah, ajari mereka tata cara yang sopan lagi baik dalam menyampaikan alasan, baik alasan ketika meminta, atau menolak, atau mengajak, agar tidak menimbulkan kesalahpahaman pada orang lain ketika mereka bermain dengan anak-anak mereka. Semoga apa yang saya uraikan di atas, bermanfaat bagi saya sendiri, dan bagi setiap orang yang membacanya, mohon maaf bila ada kesalahan, &lt;em style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; "&gt;wallahu a’lam bisshawab.&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 20px; margin-right: 0px; margin-bottom: 20px; margin-left: 0px; padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; "&gt;Dari jawaban saya di atas, jelas bahwa pendidikan dapat dimulai semenjak dini, tanpa ada batasan umur, walaupun untuk sampai memerintahkan mereka shalat dan menegur dengan keras bila tidak shalat, ada batasannya, yaitu ketika telah berumur 7 tahun, atau yang sering disebut dengan umur&lt;em style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; "&gt;tamyiiz&lt;/em&gt; (dapat membedakan antara baik dan buruk, sandal kanan dari sandal kiri). Dan sudah barang tentu selama masa pembelajaran dan pelatihan, anak-anak akan melakukan banyak kesalahan, baik yang berkaitan dengan ucapan atau perbuatan, maka kesalahan-kesalahan tersebut, sedikit demi sedikit dibenarkan dengan cara-cara yang selaras dengan pertumbuhan mereka.&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 20px; margin-right: 0px; margin-bottom: 20px; margin-left: 0px; padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; "&gt;Semoga Allah melimpahkan rahmat, taufik, hidayah dan ‘inayahnya kepada kita dan keluarga kita, serta kepada seluruh pembaca dan keluarga mereka sehingga termasuk orang-orang yang mendapatkan petunjuk di dunia dan akhirat, &lt;em style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; "&gt;amiin. Wallahu a’lam bisshawab.&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 20px; margin-right: 0px; margin-bottom: 20px; margin-left: 0px; padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; "&gt;***&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 20px; margin-right: 0px; margin-bottom: 20px; margin-left: 0px; padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; "&gt;Penanya: Jhono&lt;br /&gt;Dijawab oleh: Ustadz Muhammad Arifin Badri&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 20px; margin-right: 0px; margin-bottom: 20px; margin-left: 0px; padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; "&gt;Sumber: muslim.or.id&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1610239576162246720-3171155074198674?l=fajarilahi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fajarilahi.blogspot.com/feeds/3171155074198674/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://fajarilahi.blogspot.com/2010/02/mendidik-anak-dengan-sunnah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1610239576162246720/posts/default/3171155074198674'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1610239576162246720/posts/default/3171155074198674'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fajarilahi.blogspot.com/2010/02/mendidik-anak-dengan-sunnah.html' title='Mendidik Anak dengan Sunnah'/><author><name>@dmin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05096539022832868916</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1610239576162246720.post-240518044046481694</id><published>2010-02-19T17:59:00.000-08:00</published><updated>2010-02-20T04:24:58.560-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pendidikan'/><title type='text'>Pengaruh Kebaikan dan Amal Shalih Orang Tua Terhadap Pendidikan Anak</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_T379pRK2vJ4/S39wk30xSdI/AAAAAAAAABs/m7tThWuu8Yw/s1600-h/sholeh.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 104px; height: 124px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_T379pRK2vJ4/S39wk30xSdI/AAAAAAAAABs/m7tThWuu8Yw/s320/sholeh.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5440190653649734098" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"   style="  color: rgb(51, 51, 51); font-family:Verdana, Tahoma, sans-serif;font-size:13px;"&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Keshalihan dan amal baik orang tua memiliki dampak yang besar bagi keshalihan anak-anaknya, dan memberikan manfaat bagi mereka di dunia dan akhirat. Sebaliknya amal-amal jelek dan dosa-dosa besar yang dilakukan orang tua akan berpengaruh jelek terhadap pendidikan anak-anaknya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Pengaruh-pengaruh tersebut di atas datang dengan berbagai bentuk. Di antaranya, berupa keberkahan amal-amal shalih dan pahala yang Allah sediakan untuknya. Atau sebaliknya berupa kesialan amal-amal jelek dan kemurkaan Allah serta akibat jelek akan diterimanya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span id="more-539"&gt;&lt;/span&gt;Bentuk ganjaran dan pahala atau kemurkaan dan siksaan tersebut biasanya akan dirasakan oleh anak. Ganjaran yang dirasakan anak dapat berupa penjagaan, rezeki yang luas, dan pembelaan dart murka Allah (jika orang tua shalih dan gemar melaksanakan amalan yangbaik). Adapun amal jelek orang tua, akan berdampak jelek kepada anak, dapat berupa musibah, penyakitdan kesulitan-kesulitan lain.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Oleh karena itu, orang tua hendaknya memperbanyak amal shalih karena pengaruhnya akan terlihat pada anak. Allah berfirman,&lt;/p&gt;&lt;blockquote style="padding-left: 10px; color: rgb(165, 42, 42); font-style: normal; border-left-width: 3px; border-left-style: solid; border-left-color: rgb(165, 42, 42); font-weight: bold; font-family: georgia; "&gt;&lt;p&gt;“Adapun dinding itu milik dua orang anak yang yatim di kota dan di bawah dinding itu ada harta simpanan untuk mereka berdua, sedangkan orang tua mereka baik. Maka Rabb-mu ingin mereka sampai kepada umur dewasa lalu mereka me-ngeluarkan harta itu sebagai rahmat dari Rabb-mu.”&lt;strong&gt;(QS. Al Kahfi: 82)&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;p&gt;Awalnya, Musa bersama Khidhir singgah di sebuah desa dan berharap dijamu oleh penduduknya, tetapi ternyata mereka enggan menjamu keduanya. (Sebelum kedua nabi ini pergi) mereka melihat ada dinding yang hampir roboh. Khidhir pun menegakkannya.&lt;/p&gt;&lt;blockquote style="padding-left: 10px; color: rgb(165, 42, 42); font-style: normal; border-left-width: 3px; border-left-style: solid; border-left-color: rgb(165, 42, 42); font-weight: bold; font-family: georgia; "&gt;&lt;p&gt;Musa berkata,&lt;br /&gt;“Kalau kamu mau, mintalah bayaran.” (QS. Al Kahfi: 77)&lt;br /&gt;Khidhir menjawab,&lt;br /&gt;“Adapun dinding rumah itu adalah kepunyaan dua orang anak muda yang yatim di kota itu, dan di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua, sedang ayah dan ibu-nya adalah seorang yang shalih.” &lt;strong&gt;(QS. Al Kahfi: 82)&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;p&gt;Maka perhatikanlah bagaimana Allah Azza wa Jalla menjaga harta pusaka anak yatim ini sebagai balasan atas keshalihan kedua orang tuanya! Apakah Anda menyangka atau meyakini bahwa harta simpanan yang Allah jaga itu dikumpulkan dari harta haram? Sama sekali tidak. Orang tua yang shalih tidak mungkin mengumpulkan harta dari sumber yang haram dan tidak mungkin Allah akan menjaganya jika harta itu tidak berasal dari sumber yang halal.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Allah berfirman,&lt;/p&gt;&lt;blockquote style="padding-left: 10px; color: rgb(165, 42, 42); font-style: normal; border-left-width: 3px; border-left-style: solid; border-left-color: rgb(165, 42, 42); font-weight: bold; font-family: georgia; "&gt;&lt;p&gt;“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah yang mereka khawatirkan (kesejahteraan mereka). Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan mengucapkan perkataan yang benar.” (QS. An Nisa’: 9)&lt;/p&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;p&gt;Ayat ini menerangkan hubungan antara perkataan yang benar dan yang jelek dengan keadaan anak yang akan ditinggalkan oleh orang tuanya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Karena itu, wahai bapak dan ibu, bertakwalah kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar, khususnya dalam urusan anak yatim!&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Jika Anda melihat orang yang memakan harta anak yatim atau menganjurkan untuk berbuat zalim kepada mereka, atau mengurangi hak-hak mereka, maka bangkit dan ucapkanlah perkataan yang benar dengan semata-mata mengharap wajah Allah. Dengan kalimat yang benar dari Anda ini, Allah akan menghilangkan kezaliman dan menegakkan kebenaran, dan pengaruh baiknya akan terus dirasakan oleh anak cucu Anda dan akan dicatat di buku catatan kebaikan Anda di hari kiamat.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Maka bersemangatlah dalam memuliakan anak yatim, dan berhati-hatilah dari mendekati harta mereka, karena semua itu memiliki pengaruh yang besar atas anak-anak Anda sebagaimana telah kami terangkan di atas.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Perbaiki, wahai bapak dan ibu, makanan dan minuman serta pakaian Anda; (carilah yang halal), karena dengan demikian, ketika Anda mengangkat kedua tangan berdoa kepada Allah dengan tangan dan jiwa yang suci, Allah akan menerima doa Anda untuk kebaikan anak-anak Anda, memperbaiki keadaan mereka dan memberkahi diri mereka. Allah Subhanahu wa Taala berfirman,&lt;/p&gt;&lt;blockquote style="padding-left: 10px; color: rgb(165, 42, 42); font-style: normal; border-left-width: 3px; border-left-style: solid; border-left-color: rgb(165, 42, 42); font-weight: bold; font-family: georgia; "&gt;&lt;p&gt;“Sesungguhnya Allah hanya menerima dari orang-orang bertakwa.” &lt;strong&gt;(QS. Al Maidah: 27)&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;p&gt;Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,&lt;/p&gt;&lt;blockquote style="padding-left: 10px; color: rgb(165, 42, 42); font-style: normal; border-left-width: 3px; border-left-style: solid; border-left-color: rgb(165, 42, 42); font-weight: bold; font-family: georgia; "&gt;&lt;p&gt;“Ada seorang laki-laki yang melakukan perjalanan jauh. Rambutnya kusut dan berdebu. Lalu dia mengangkat kedua tangannya ke langit seraya berdoa, ‘Ya Rabbi, ya Rabbi.’ Padahal makanannya haram, minumannya haram, dan pakaiannya haram, dan dia dikenyangkan dengan makanan yang haram, maka bagaimana orang seperti ini dikabulkan doanya?”&lt;sup&gt;&lt;a href="http://jilbab.or.id/archives/539-pengaruh-kebaikan-dan-amal-shalih-orang-tua-terhadap-pendidikan-anak/#footnote_0_539" id="identifier_0_539" class="footnote-link footnote-identifier-link" title="Dikeluarkan oleh Imam Muslim dalam kitab Shahih-nya (no.1015) dari hadits Abu Hurairah radhiyallahu anhu, dia berkata bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Wahai manusia, sesungguhnya Allah itu baik dan tidak menerima sesuatu kecuali yang baik. Dan sesungguhnya Allah telah memerintahkan kepada orang-orang beriman (seperti) apa yang telah diperintahkan kepada para rasul. Dia berfirman, “Wahai para rasul, makanlah dari segala sesuatu yang baik dan kerjakanlah amal shalih. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al Mukminun: 51) Dan Dia berfirman.  “Wahai orang-orang yang beriman, makanlah dari apa-apa yang baik yang telah Kami berikan kepadamu.” (QS. Al Baqarah: 172) Kemudian Nabi menyebutkan kisah laki-laki tadi." style="color: rgb(255, 85, 2); text-decoration: none; "&gt;1&lt;/a&gt;&lt;/sup&gt;&lt;/p&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;p&gt;Bagaimana Anda berdoa mengangkat kedua tangan dan mengharapkan jawaban, sementara tangan Anda masih sering membunuh, memukul dan menganiaya, Anda masih suka menipu orang? Bagaimana Anda berdoa untuk kebaik an anak Anda dengan tangan itu?! Bagaimana mungkin Anda berdoa, memanjatkan permintaan kepada Allah dengan mulut Anda, sementara mulut itu sering memakan harta yang haram, sering berdusta, namimah, ghibah, mencela kehor-matan orang, mencaci dan memaki, bahkan mengucapkan kali mat-kali mat syirik, dan menuduh berzina wanita baik-baik?!&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Apakah Anda yakin doa Anda akan diterima sementara pakaian dan makanan Anda dari sumber yang haram?!&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Karena itu bertakwalah dan beramal shalihlah agar doa untuk kebaikan anak Anda diterima!&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Diceritakan bahwa sebagian orang-orang salaf dahulu pernah berkata kepada anaknya, “Wahai anakku, aku akan mebaguskan shalatku agar engkau mendapatkan kebaikan.” Sebagian ulama menyatakan bahwa makna ucapan itu adalah aku akan memperbanyak shalatku dan berdoa kepada Allah untuk kebaikanmu.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kedua orang tua bila membaca Al Qur’an, surat Al Baqarah dan surat-surat Al Mu’awwidzat (Al Ikhlas, Al Falaq dan An Naas), maka para malaikat akan turun untuk mendengarkannya&lt;sup&gt;&lt;a href="http://jilbab.or.id/archives/539-pengaruh-kebaikan-dan-amal-shalih-orang-tua-terhadap-pendidikan-anak/#footnote_1_539" id="identifier_1_539" class="footnote-link footnote-identifier-link" title="Dikeluarkan oleh Imam Muslim dalam kitab Shahih-nya (no. 2699) dari hadits Abu Hurairah radhiyallahu anhu, dia berkata, Rasulullah juga bersabda, -kemudian beliau menyebutkan haditsnya dan di antaranya adalah-  “Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah Allah (masjid), membaca Kitabullah, saling mempelajarinya di antara mereka,melainkan ketenangan akan turun atas mereka, rahmat akan meliputi mereka, para malaikat akan menaungi mereka, dan Allah akan menyebut mereka kepada malaikat yang ada di sisi-Nya.”" style="color: rgb(255, 85, 2); text-decoration: none; "&gt;2&lt;/a&gt;&lt;/sup&gt; dan setan-setan akan lari.&lt;sup&gt;&lt;a href="http://jilbab.or.id/archives/539-pengaruh-kebaikan-dan-amal-shalih-orang-tua-terhadap-pendidikan-anak/#footnote_2_539" id="identifier_2_539" class="footnote-link footnote-identifier-link" title="Dikeluarkan juga oleh Imam Muslim dalam kitab Shahih-nya (no. 796), bahwa Usaid bin Hudhair radhiyallahu ‘anhu pada suatu malam membaca Al Qur’an di tempat penjemuran kurmanya. Tiba-tiba kudanya melonjak-lonjak. Usaid kemudian melanjutkan membaca, dan tak lama kemudian kuda itu melonjak-lonjak lagi. Kemudian dia membaca lagi, dan kembali kudanya melonjak-lonjak. Dia berkata,  “Aku khawatir kuda tersebut akan menginjak anakku, si Yahya. Maka aku pun pergi melihat apa yang terjadi dengan kuda itu. Ternyata ada benda seperti gumpalan awan di atasnya, di dalamnya seperti pelita. Lama kelamaan gumpalan itu naik ke angkasa dan menghilang. Pagi-pagi sekali aku menghadap Nabi shallallahu alaihi wa sallam dan menanyakan perihal kejadian semalam. Nabi berkata kepadaku, “Sekarang bacalah, wahai Ibnu Khudair.” Maka aku pun membaca, tiba-tiba kudaku kembali melonjak-lonjak. Nabi berkata lagi,  “Bacalah, wahai Ibnu Khudhair.” Maka aku membaca lagi, dan kuda itu kembali melonjak-lonjak. Kemudian Nabi memerintahkan aku membaca untuk ketiga kalinya, dan ternyata sama dengan kejadian sebelumnya, kudaku melonjak-lonjak. Karena saat itu Yahya ada di dekat kuda itu, maka aku khawatir dia terinjak olehnya. Ternyata aku melihat segumpal awan (di dekat kuda itu), di dalamnya seperti ada pelita. Lama kelamaan gumpalan itu naik ke angkasa dan menghilang. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Yang tadi itu adalah malaikat yang ikut mendengarkan bacaan kamu. Kalau saja kamu membacanya sampai pagi hari, niscaya orang-orang akan melihat dengan jelas gumpalan itu.”  Dalam Shahih Muslim (no. 780) dari hadits Abu Hurairah radhiyallahu anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,  “Janganlah engkau jadikan rumahmu seperti kuburan. Sesungguhnya setan lari dari rumah yang dibaca di dalamnya surat Al Baqarah.”" style="color: rgb(255, 85, 2); text-decoration: none; "&gt;3&lt;/a&gt;&lt;/sup&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Tidak diragukan bahwa turunnya malaikat membawa ketenangan dan rahmat. Dan ini jelas memberi pengaruh baik terhadap anak dan keselamatan mereka.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Tetapi bila Al Qur’an ditinggalkan, dan orang tua lalai dari zikir, ketika itu setan-setan akan turun dan memerangi rumah yang tidak ada bacaan Al Qur’an, penuh dengan musik, alat-alat musik, dan gambar-gambar yang haram. Kondisi seperti ini jelas akan berpengaruh jelek terhadap anak-anak dan mendorong mereka berbuat maksiat dan kerusakan.&lt;/p&gt;&lt;hr /&gt;Diketik ulang dari:&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;“Tarbiyatul Abna”&lt;/strong&gt; Syaikh Musthafa Al Adawi, Media Hidayah, hal 42-47.&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;ol class="footnotes" style="font-size: 0.9em; color: rgb(102, 102, 102); "&gt;&lt;li id="footnote_0_539" class="footnote" style="list-style-type: decimal; "&gt;Dikeluarkan oleh &lt;strong&gt;Imam Muslim dalam kitab Shahih-nya&lt;/strong&gt; (no.1015) dari hadits Abu Hurairah radhiyallahu anhu, dia berkata bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Wahai manusia, sesungguhnya Allah itu baik dan tidak menerima sesuatu kecuali yang baik. Dan sesungguhnya Allah telah memerintahkan kepada orang-orang beriman (seperti) apa yang telah diperintahkan kepada para rasul. Dia berfirman,&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;blockquote style="padding-left: 10px; color: rgb(165, 42, 42); font-style: normal; border-left-width: 3px; border-left-style: solid; border-left-color: rgb(165, 42, 42); font-weight: bold; font-family: georgia; "&gt;&lt;p&gt;“Wahai para rasul, makanlah dari segala sesuatu yang baik dan kerjakanlah amal shalih. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” &lt;strong&gt;(QS. Al Mukminun: 51)&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;p&gt;Dan Dia berfirman.&lt;/p&gt;&lt;blockquote style="padding-left: 10px; color: rgb(165, 42, 42); font-style: normal; border-left-width: 3px; border-left-style: solid; border-left-color: rgb(165, 42, 42); font-weight: bold; font-family: georgia; "&gt;&lt;p&gt;“Wahai orang-orang yang beriman, makanlah dari apa-apa yang baik yang telah Kami berikan kepadamu.” &lt;strong&gt;(QS. Al Baqarah: 172)&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;p&gt;Kemudian Nabi menyebutkan kisah laki-laki tadi. [&lt;a href="http://jilbab.or.id/archives/539-pengaruh-kebaikan-dan-amal-shalih-orang-tua-terhadap-pendidikan-anak/#identifier_0_539" class="footnote-link footnote-back-link" style="color: rgb(255, 85, 2); text-decoration: none; "&gt;↩&lt;/a&gt;]&lt;/p&gt;&lt;/li&gt;&lt;li id="footnote_1_539" class="footnote" style="list-style-type: decimal; "&gt;Dikeluarkan oleh Imam Muslim dalam kitab Shahih-nya (no. 2699) dari hadits Abu Hurairah radhiyallahu anhu, dia berkata, Rasulullah juga bersabda, -kemudian beliau menyebutkan haditsnya dan di antaranya adalah-&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;blockquote style="padding-left: 10px; color: rgb(165, 42, 42); font-style: normal; border-left-width: 3px; border-left-style: solid; border-left-color: rgb(165, 42, 42); font-weight: bold; font-family: georgia; "&gt;&lt;p&gt;“Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah Allah (masjid), membaca Kitabullah, saling mempelajarinya di antara mereka,melainkan ketenangan akan turun atas mereka, rahmat akan meliputi mereka, para malaikat akan menaungi mereka, dan Allah akan menyebut mereka kepada malaikat yang ada di sisi-Nya.”&lt;/p&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;/li&gt;&lt;li id="footnote_2_539" class="footnote" style="list-style-type: decimal; "&gt;Dikeluarkan juga oleh &lt;strong&gt;Imam Muslim dalam kitab Shahih-nya (no. 796)&lt;/strong&gt;, bahwa Usaid bin Hudhair radhiyallahu ‘anhu pada suatu malam membaca Al Qur’an di tempat penjemuran kurmanya. Tiba-tiba kudanya melonjak-lonjak. Usaid kemudian melanjutkan membaca, dan tak lama kemudian kuda itu melonjak-lonjak lagi. Kemudian dia membaca lagi, dan kembali kudanya melonjak-lonjak. Dia berkata,&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;blockquote style="padding-left: 10px; color: rgb(165, 42, 42); font-style: normal; border-left-width: 3px; border-left-style: solid; border-left-color: rgb(165, 42, 42); font-weight: bold; font-family: georgia; "&gt;&lt;p&gt;“Aku khawatir kuda tersebut akan menginjak anakku, si Yahya. Maka aku pun pergi melihat apa yang terjadi dengan kuda itu. Ternyata ada benda seperti gumpalan awan di atasnya, di dalamnya seperti pelita. Lama kelamaan gumpalan itu naik ke angkasa dan menghilang. Pagi-pagi sekali aku menghadap Nabi shallallahu alaihi wa sallam dan menanyakan perihal kejadian semalam. Nabi berkata kepadaku,&lt;/p&gt;&lt;p&gt;“Sekarang bacalah, wahai Ibnu Khudair.”&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Maka aku pun membaca, tiba-tiba kudaku kembali melonjak-lonjak. Nabi berkata lagi,&lt;/p&gt;&lt;p&gt;“Bacalah, wahai Ibnu Khudhair.”&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Maka aku membaca lagi, dan kuda itu kembali melonjak-lonjak. Kemudian Nabi memerintahkan aku membaca untuk ketiga kalinya, dan ternyata sama dengan kejadian sebelumnya, kudaku melonjak-lonjak. Karena saat itu Yahya ada di dekat kuda itu, maka aku khawatir dia terinjak olehnya. Ternyata aku melihat segumpal awan (di dekat kuda itu), di dalamnya seperti ada pelita. Lama kelamaan gumpalan itu naik ke angkasa dan menghilang. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,&lt;/p&gt;&lt;blockquote style="padding-left: 10px; color: rgb(165, 42, 42); font-style: normal; border-left-width: 3px; border-left-style: solid; border-left-color: rgb(165, 42, 42); font-weight: bold; font-family: georgia; "&gt;&lt;p&gt;“Yang tadi itu adalah malaikat yang ikut mendengarkan bacaan kamu. Kalau saja kamu membacanya sampai pagi hari, niscaya orang-orang akan melihat dengan jelas gumpalan itu.”&lt;/p&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;p&gt;Dalam &lt;strong&gt;Shahih Muslim (no. 780)&lt;/strong&gt; dari hadits Abu Hurairah radhiyallahu anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,&lt;/p&gt;&lt;blockquote style="padding-left: 10px; color: rgb(165, 42, 42); font-style: normal; border-left-width: 3px; border-left-style: solid; border-left-color: rgb(165, 42, 42); font-weight: bold; font-family: georgia; "&gt;&lt;p&gt;“Janganlah engkau jadikan rumahmu seperti kuburan. Sesungguhnya setan lari dari rumah yang dibaca di dalamnya surat Al Baqarah.”&lt;/p&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1610239576162246720-240518044046481694?l=fajarilahi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fajarilahi.blogspot.com/feeds/240518044046481694/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://fajarilahi.blogspot.com/2010/02/pengaruh-kebaikan-dan-amal-shalih-orang.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1610239576162246720/posts/default/240518044046481694'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1610239576162246720/posts/default/240518044046481694'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fajarilahi.blogspot.com/2010/02/pengaruh-kebaikan-dan-amal-shalih-orang.html' title='Pengaruh Kebaikan dan Amal Shalih Orang Tua Terhadap Pendidikan Anak'/><author><name>@dmin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05096539022832868916</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_T379pRK2vJ4/S39wk30xSdI/AAAAAAAAABs/m7tThWuu8Yw/s72-c/sholeh.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1610239576162246720.post-1736534539037811091</id><published>2010-02-19T17:43:00.000-08:00</published><updated>2010-02-19T17:55:00.502-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pendidikan'/><title type='text'>JANGAN  SALAH  MENDIDIK</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_T379pRK2vJ4/S38_a9J7D9I/AAAAAAAAABc/6-ZXWX8Xmqo/s1600-h/wisuda.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 133px; height: 133px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_T379pRK2vJ4/S38_a9J7D9I/AAAAAAAAABc/6-ZXWX8Xmqo/s320/wisuda.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5440136607212179410" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span"   style="  color: rgb(51, 51, 51); font-family:Verdana, Tahoma, sans-serif;font-size:13px;"&gt;&lt;p&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:x-small;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:georgia;"&gt;penyusun: Ust. Zaenal Abidin bin Syamsudin, Lc&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:georgia;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:georgia;"&gt;Lembaga pendidikan hanya sebuah sarana dan sekolah hanya sekadar tempat singgah anak untuk menjalani persiapan menuju jenjang pendidikan berikutnya. Namun, sangat disayangkan sebagian lembaga pendidikan ternyata lebih banyak mewarnai perilaku dan tabiat buruk anak. Oleh karena itu, bila sukses dunia-akhirat adalah pertimbangan utama, maka orangtua harus pandai-pandai memilih lembaga pendidikan yang sejalan dengan syariat Islam.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style=" ;font-family:georgia;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style=" ;font-family:georgia;"&gt;Banyak orang awam dan berkantong tebal salah dalam memilih lembaga pendidikan. Alih-alih mempertimbangkan kebersihan akidah dan keluhuran akhlak bagi anak-anaknya, mereka hanya berorientasi pada keberhasilan di dunia. Alhasil, mereka hanya memilih sekolah favorit yang ternama dan bergengsi walaupun harus mengeluarkan biaya yang sangat besar. Sekolah mahal dipakai sebagai alat pengangkat prestise orangtua, sekadar alat untuk menunjukkan bahwa orangtua mampu menyekolahkan anak di sekolah pilihan orang kaya. Bila sudah begini, janganlah terlalu berharap memiliki anak shalih.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:georgia;"&gt;Berikut beberapa contoh kesalahan orang tua dalam memberikan pendidikan buat anak-anaknya:&lt;br /&gt;&lt;span id="more-949"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;strong&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:georgia;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:georgia;"&gt;1. Salah Tujuan&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:georgia;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:georgia;"&gt;Seringkali orangtua menyekolahkan anak karena malu pada tetangga bila anaknya bodoh atau kalah kecerdasannya, atau khawatir kelak anaknya tidak mendapat pekerjaaan yang layak. Atau, si orangtua hanya ingin agar anaknya nanti menjadi pengawai negeri dan pejabat tinggi yang banyak harta dan hidup mapan. Padahal, orangtua haruslah berangkat dari niat menjalankan&lt;br /&gt;perintah Allah, yaitu memenuhi kewajiban hamba sebagai orangtua yang memang dituntut untuk mendidik anak-anaknya agar menjadi hamba Allah subhanahu wa ta’ala yang bertakwa dan shalih, yang menjadi simpanan abadi di akhirat kelak.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:georgia;"&gt;Sayangnya, saat ini justru sekolah yang melulu berorientasi pada keberhasilan dunialah yang menjadi prioritas banyak orang awam. Mereka tak memperhatikan apakah terjadi ikhtilat atau tidak. Sehingga kemaksiatan mudah tercipta di sekolah tersebut, karena landasan agama dicampakkan, sementara dunia menjadi tujuan. Lihatlah, di sekolah-sekolah yang ikhtilat,&lt;br /&gt;banyak terjadi kasus zina melalui budaya pacaran, pergaulan bebas, dan asmara buta sehingga kekejian merebak dan perzinahan merajalela.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:georgia;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:georgia;"&gt;2. Salah Sekolahan&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:georgia;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:georgia;"&gt;Bisa jadi orangtua sudah benar dalam niat, tapi karena ilmu agamanya yang minim, ia salah mencarikan lembaga pendidikan bagi anak-anaknya. Misalnya, ia ingin anaknya paham ilmu agama, maka ia main masukkan saja anaknya ke sekolah agama seperti madrasah atau pesantren, tanpa peduli apakah pesantren itu penuh bid’ah atau tidak, dan apakah akidah dan akhlak para santri benar-benar terkontrol.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:georgia;"&gt;Harus diakui, saat ini masih ada sekolah Islam yang di situ bercampur-baur antara pelajar laki-laki dengan perempuan, atau kurang memperhatikan sistem pengajarannya, sehingga bercampur antara pelajaran yang syar’i dan bid’ah, bahkan antara ajaran Islam dan ajaran kafir. Alhasil, pemahaman dan efek buruklah yang diterima sang anak. Kelak, ia pun secara sistematis akan tumbuh menjadi generasi dengan pemahaman dan pengamalan Islam yang&lt;br /&gt;menyimpang dari syariat Islam.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:georgia;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:georgia;"&gt;3. Salah Teladan&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:georgia;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:georgia;"&gt;Sebagaimana yang telah saya jelaskan di atas, keteladan memiliki pengaruh kuat dalam proses pendidikan anak. Perilaku orangtua maupun guru berdampak kuat bagi pembentukan kematangan pribadi sang anak. Teladan yang salah akan membuat anak terdidik di atas kebiasaan buruk dan perilaku negatif. Karena itu, orangtua harus memilih pendidik yang menjunjung tinggi&lt;br /&gt;nilai-nilai akidah dan moral, serta memiliki kelebihan ilmu dan amal dibanding murid-muridnya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:georgia;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:georgia;"&gt;4. Salah Metode Pendidikan&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:georgia;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:georgia;"&gt;Bisa saja pelajaran yang diberikan kepada sang anak sudah baik, tapi cara penyampaiannya yang tidak tepat, sehingga tujuan dan target pendidikan tidak tercapai, atau anak didik menjadi gagal. Mendisiplinkan anak-anak dengan sanksi kekerasan fisik, misalnya, hanya membentuk anak berwatak keras. Sebaliknya, memberi toleransi yang berlebihan akan membuat anak semakin manja. Anak yang selalu diluluskan permintaan materinya akan tumbuh menjadi anak yang cinta dunia, sementara anak yang biasa diabaikan permintaannya, bisa punya kebiasaan mencuri. Di sekolah, anak hanya dicecar dengan hafalan, tapi kurang diajak memahami suatu permasalahan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:georgia;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:georgia;"&gt;5. Motivasi yang Kurang Tepat&lt;br /&gt;6. Membatasi Kreativitas Anak&lt;br /&gt;7. Membatasi Pergaulan&lt;br /&gt;8. Tidak Disipilin dan Kurang Tertib&lt;br /&gt;9. Hanya Pendidikan Formal&lt;br /&gt;10.Kurang Mengenalkan Tanggung Jawab&lt;br /&gt;11.Khawatir yang Berlebihan&lt;br /&gt;12.Kurang Sabar dalam Menerima Hasil&lt;br /&gt;13.Curiga Berlebihan&lt;br /&gt;14.Menjauhkan Anak dari Orang Shalih&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:georgia;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:georgia;"&gt;keterangan poin 5-14, edisi depan, insya allah…&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:georgia;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;dari buku:&lt;br /&gt;judul: “Untukmu Anak Shalih”&lt;br /&gt;penyusun: Ust. Zaenal Abidin bin Syamsudin, Lc&lt;br /&gt;penerbit: rumah penerbit al-manar&lt;br /&gt;halaman: 35-38&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1610239576162246720-1736534539037811091?l=fajarilahi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fajarilahi.blogspot.com/feeds/1736534539037811091/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://fajarilahi.blogspot.com/2010/02/jangan-salah-mendidik.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1610239576162246720/posts/default/1736534539037811091'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1610239576162246720/posts/default/1736534539037811091'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fajarilahi.blogspot.com/2010/02/jangan-salah-mendidik.html' title='JANGAN  SALAH  MENDIDIK'/><author><name>@dmin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05096539022832868916</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_T379pRK2vJ4/S38_a9J7D9I/AAAAAAAAABc/6-ZXWX8Xmqo/s72-c/wisuda.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1610239576162246720.post-3005182756481497000</id><published>2010-02-18T05:23:00.000-08:00</published><updated>2010-02-18T17:27:14.113-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pendaftaran'/><title type='text'>PENDAFTARAN SISWA BARU</title><content type='html'>&lt;b&gt;Tempat Pendaftaran :&lt;/b&gt;&lt;div&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;Kantor TKIT Fajar Ilahi&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;Komplek Masjid Sabilunnajah, MKGR, Batu aji - Batam  . &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;Call 0778 - 364462&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;&lt;b&gt;Waktu Pendaftaran :&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;Pendaftaran     :  1 - 13 Maret 2010&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;Pengumuman  :  22 Maret 2010&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;Daftar Ulang     :  22 - 27 Maret 2010&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;&lt;b&gt;Syarat Pendaftaran :&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;1. Batas usia TK-A minimal 4 tahun pada Juli 2010 &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;    Batas usia TK-B minimal 5 tahun pada Juli 2010&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;2. Membayar biaya pendaftaran Rp 50.000.-&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;3. Mengisi Formulir Pendaftaran&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;4. Menyerahkan Photo copy Akte Kelahiran&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;5. Membawa calon siswa/siswi pada saat mendaftar&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#CC0000;"&gt;Tempat Terbatas : &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#CC0000;"&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;b&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#CC0000;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;TK-A  :  &lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0); font-weight: normal; "&gt;&lt;b&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#CC0000;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;50 siswa/siswi&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0); font-weight: normal; "&gt;&lt;b&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#CC0000;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0); font-weight: normal; "&gt;&lt;b&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#CC0000;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;b&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#CC0000;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;TK-B  :  &lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0); font-weight: normal; "&gt;&lt;b&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#CC0000;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0); font-weight: normal; "&gt;&lt;b&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#CC0000;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0); font-weight: normal; "&gt;&lt;b&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#CC0000;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0); font-weight: normal; "&gt;&lt;b&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#CC0000;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;75 siswa/siswi&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1610239576162246720-3005182756481497000?l=fajarilahi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fajarilahi.blogspot.com/feeds/3005182756481497000/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://fajarilahi.blogspot.com/2010/02/pendaftaran-siswa-baru.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1610239576162246720/posts/default/3005182756481497000'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1610239576162246720/posts/default/3005182756481497000'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fajarilahi.blogspot.com/2010/02/pendaftaran-siswa-baru.html' title='PENDAFTARAN SISWA BARU'/><author><name>@dmin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05096539022832868916</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
